Senin, 03 Februari 2014

Motel Maggie

Oleh Failasufa Karima An-Nizhamiya


Illustrasi mbuat sendiri khusus Motel Maggie

“Tidakkah kau merasakan malam ini terasa sedikit lebih dingin dari malam-malam biasanya?”
“Kupikir juga begitu, Dadda...”
“Sebaiknya kita hangatkan badan di dalam rumah. Angin malam di luar jahat sekali.” Sang Ayah berhenti merayap lantas menoleh ke belakang, ke arah lawan bicaranya, mengamati.
“Kupikir juga begitu, Dadda...”
“Ekormu putus lagi?” tanya Sang Ayah datar dan wajar.
Kadal gurun yang berukuran 2 inchi merayapi perlahan batu besar coklat kemerahan lalu diikuti oleh kadal yang lebih kecil. Seberkas cahaya lemah dari lampu penerangan jalan menyusup di antara semak-semak yang mereka lewati. Mereka hendak menuju motel lima puluh meter di depan mereka sembari menyuruk lincah, bersembunyi dari para pemangsa malam. Di antara jarak itu pula terdengar suara mesin truk Chevrolet tua dihidupkan, kerikil berloncatan ke belakang ban, suara mesin makin meraung kemudian melaju cepat meninggalkan halaman parkir berpasir ke arah Gila Street. Begitu pun dari dalam motel, sayup-sayup suara renyah penyanyi lawas Kinky Friedman dengan lagu country-nya, The Ballad Of Charles Whitman, bersenandung lewat radio,
There was a rumor about tumor
Nestled at the base of his brain.
He was sitting up there with his .36 Magnum
Laughing wildly as he bagged ‘em.
Tombol volume radio dikecilkan, lalu suara renyah Kinky Friedman menghilang perlahan, digantikan oleh suara tinggi melengking.
“Beberapa lagu country kadang memang terasa janggal. Apakah kau tidak merasa aneh mendengar lagu yang baru saja diputar di radio tadi, Mattie?”
Sunyi sesaat. Disusul bunyi ujung pulpen diketuk-ketukkan di atas papan kayu.
“Macet lagi ah! Pulpen ini bisa kau tambahkan ke dalam daftar belanjaan besok, Mattie. Kau harus membeli pulpen berkualitas. Tadi aku ngomong sampai mana?”
“Sampai pulpen berkualitas,” jawab suara lain cukup tegas.
“Bukan itu. Sebelumnya lagi. Oh, ya, lagu country yang janggal! Jadi, lirik lagu tadi, lagu yang dinyanyikan Kinky Friedman itu, adalah sebuah ironi. Sedangkan musiknya berjingkat-jingkat ceria seperti anak kecil yang baru saja mendapat permen. Dua hal yang berbeda disulamnya jadi satu, tidak konsisten! Harusnya, Iya-iya, tidak-tidak! Lagu country memang aneh.” Maggie mengomentari tanpa ragu.
Pintu samping bangunan utama motel sedikit terbuka dan angin sedang tidak berhembus. Dua kadal gurun berbintik merah tadi langsung merayap cepat melintasi celah daun pintu. Kadal gurun yang lebih besar melesat terlebih dahulu kemudian diikuti oleh kadal gurun yang lebih kecil. Mereka berhasil sampai ke dalam motel dengan selamat tanpa perlu terjepit daun pintu―karena kawan mereka telah banyak yang mengukir sejarah, mati terjepit daun pintu atau pun jendela. Lagu Country Kinky Friedman masih mengalun sayup, tetapi tetap terdengar keras oleh kedua kadal itu. Mereka menghangatkan diri di antara kaki meja dekat pintu, kaki Maggie Redwine si pemilik motel, dan kaki Matthew Wilson―assistennya yang sekaligus merangkap sebagai bellboy.
“Mengapa radio itu memutarkan lagu sedih malam ini, Mattie?” Maggie menghentikan liukan-liukan pulpen di atas buku administrasi  lalu menyentakkan matanya seketika ke arah assistennya, “Tak adakah lagu yang lebih pantas? Lagu dengan musik gembira lain dan lirik yang lebih menyenangkan? Pada malam menjelang tahun baru, sepatutnya lagu-lagu penuh kegembiraanlah yang diputar. Harusnya lagu riang!” Maggie akhirnya mematikan radio sebelum kemarahannya tumpah.
“Orang yang sedang berduka hatinya biasanya lebih mendengarkan lirik, orang yang sedang gembira hatinya biasanya lebih mendengarkan musik,” Matthew menjawab pelan, melipat koran yang belum sempat ia baca kemarin lantas beranjak dari lantai duduknya. Ia merapikan meja dari tumpukan koran dan majalah berserakan. Kerapian dan kesimetrisan adalah hal yang disenanginya.
“Jangan kau rapikan buku-buku di mejaku, cukup kau rapikan meja ruang tunggu saja. Aku tak suka barang-barangku dipindah-pindah,” sentak Maggie cepat-cepat, “Aku juga tidak sedang berduka,” tambahnya pelan.
“Dadda, apakah kita aman di sini? Sepertinya wanita itu buas sekali,” tanya kadal bertotol merah kecil kepada ayahnya seraya berusaha mengibas-ngibaskan pangkal ekornya.
Pemuda berkumis tipis itu tiba-tiba teringat, “Ada dua kadal gurun bertotol merah, di bawah meja,” dan ia mengangkat kedua alisnya pada Maggie, “Mau kurapikan sekalian?” tanya Matthew.

Kadal yang lebih tua tak menjawab. Ia sedang sibuk mencermati Maggie dalam-dalam. Kulit wajah Maggie tampak berbintik-bintik di sekitar tonjolan tulang pipinya. Rambutnya yang lebat lurus dan tergerai sebahu menguarkan bau apak. Beberapa kali ia menyibakkan poninya yang jatuh ke dahi tanpa hasil. Dan matanya memancarkan banyak ketidakberdayaan pada dunianya yang sempit.
“Tak usah. Biarkan saja,” sahut Maggie datar. Raut wajah Maggie sekilas tampak sepuluh tahun lebih tua dari usianya seharusnya. Ia juga masih mengenakan kemeja longgar kotak-kotak besar yang kemarin dipakainya.
Maggie melihat jam tangannya, layar jam digitalnya menampakkan angka 09:33 P.M.
“Pada pukul sembilan lewat tiga puluh tiga menit malam setahun lalu, apa yang sedang kau lakukan, Mattie?” tanya Maggie tanpa menatap Matthew. Ia terus menunduk sesekali melirik jam tangannya sembari meliyuk-liyukkan ujung pulpennya lagi. Di halaman terakhir buku administrasinya ada gambar babi kecil berhidung besar bermata sayu dan berponi melintir ke bawah, di sampingnya ia tambahkan gambar awan dengan banyak garis melingkar-lingkar sembarangan.
“Sepertinya aku masih bekerja sebagai petugas lift di Raddison Hotel, akhir tahun kemarin. Aku tidak mengambil cuti, sepertinya.” Matthew menyangsikan jawabannya sendiri.
“Bagaimana dengan tahun lalunya lagi? Dua tahun sebelum ini.”
“Aku lupa, mungkin juga masih belum mendapatkan cuti.”
Angin di luar bertambah kencang. Ranting semak-semak di luar motel mengetuk-ngetuk kaca daun jendela beberapa kali dan membuat tarian bayang-bayang hitam menakutkan. Anak kadal gurun tersebut bergerak-gerak gelisah di belakang ayahnya sambil mendecak-decakkan lidahnya. Sang ayah membalas dengan kibasan ekor ke kanan dan ke kiri, sedangkan kepalanya tetap lurus ke depan memperhatikan dua sosok manusia di hadapannya, Maggie dan Matthew. Si kadal Dadda berasumsi bahwa jika ia sering menonton para manusia bertingkah, ia akan mampu mengambil banyak pelajaran hidup―setidaknya, minimal untuk bertahan hidup agar ia dan kawanannya tidak mati terinjak oleh mereka.
Mattew berkata lagi, “Boleh kuhidupkan radionya lagi? Akan kupilihkan lagu gembira dengan lirik yang juga gembira untukmu. Malam ini, malammu!” diputar-putarnya tuning radio, berhenti beberapa saat, ia dengarkan lagunya sebentar, lalu ia kembali memutar turning radio hingga ia menemukan lagu ini,
Somewhere beyond the sea,
Somewhere waiting for me,
My lover stand on golden sands,
And watches the ships that go sailing.
Beyond The Sea―Robbie Williams. Volumenya ia keraskan. Lagu yang gembira, lirik yang gembira, dan timbre suara yang ringan. Maggie pasti menyukainya!
“Silakan.” Matthew yang berbadan tinggi jenjang membungkukkan badan sedikit kepada Maggie lalu berbalik pergi ke ruang janitor.
“Mattie, bagaimana jika kita menutup motel untuk malam ini saja? Kau kuberi cuti libur akhir tahun dan tetap akan kubayar uang lembur akhir tahun.” Maggie setengah berteriak kepada Matthew yang sedang mengepel lorong samping antara pantri dan ruang makan. Lagu Beyond The Sea masih mengalun pelan. Alis Matthew yang tipis tampak dikerutkan, ia hanya menoleh dengan tatapan menyelidik.
“Ayolah, temani aku sekali ini saja merayakan malam pergantian tahun. Kau mau kan, Mattie?” lanjut Maggie.
“Bagaimana dengan para penyewa kamar saat mereka kembali lalu meninggalkan motel, dan tak ada orang di sini. Kau sudah memikirkannya?”
Pertanyaan itu dijawab Maggie spontan berdasarkan perkiraan-perkiraan kasar dari pegalaman-pengalamannya tahun lalu. Semua penyewa kamar rata-rata tak ada yang tak meninggalkan kamarnya selama malam pergantian tahun berlangsung, termasuk malam ini. Jam kembali mereka ke motel paling awal adalah pukul empat dini hari.  Mereka langsung menuju kamar masing-masing tanpa memesan menu makanan atau minuman setelahnya. Kunci kamar motel dibawa oleh masing-masing penyewa kamar. Jadi, Maggie dan Matthew tak harus kembali sebelum pukul empat pagi. Mereka hanya perlu kembali sebelum jam sarapan tiba, tentunya untuk menyiapkan menu sarapan―sekadar berjaga-jaga manakala ada tamu yang mampir untuk sarapan belaka.
Maggie dan Matthew akan meninggalkan motel dalam keadaan lampu dan radio masih menyala untuk memberi kesan bahwa di dalamnya masih ada orang―siasat penting untuk mengelabui para pencuri. Sedangkan di pintu masuk halaman parkir, diberi plang dengan tulisan “KAMAR PENUH” walau masih ada beberapa kamar yang belum terisi.
“Baiklah, Miss Redwine,” sahut Matthew, “Kau ingin aku manemanimu kemana?”
“Aku pun tak tahu akan pergi kemana, Matt. Kupikir... “ Maggie berdiam sebentar, “Kau ada ide, Mattie?”
Gelengan kepala Mattew terasa terlalu mantap seraya mengerucutkan bibirnya. Matthew tidak tahu apa yang harus dijawabnya pada Maggie. Kesunyian mampir sejenak dalam benaknya.  Tiba-tiba kepalanya dipenuhi oleh ingatan-ingatan masa lalu. Terasa terlalu lama ia ditinggalkan oleh hingar-bingar kehidupan. Bahkan malam natal pun ia lewatkan dalam keheningan. Ia juga lupa bagaimana cara merayakan malam tahun baru. Yang masih ia ingat, dulu kedua orang tuanya bekerja di pub, begitu juga saat momen malam pergantian tahun.
“Pub?” tanya Mattew ragu. Maggie menolak. Alasanya karena terlalu banyak bau busuk di sana. Bau muntahan. Assitennya itu menawarkan lagi beberapa tempat yang sama sekali tidak menarik, “Riverside? Kampus Phoenix? Atau rumah kakek-nenekmu?” Maggie menolak lagi. Maggie semakin mual dan merasa segala-galanya keliru.
“Dadda, kita akan menonton mereka berdua dari bawah meja ini, sampai kapan?” tanya kadal gurun kecil.
“Kurasa pertunjukan ini sudah mulai membosankan,” ujar Dadda pada dirinya sendiri.
“Dadda...” seru kadal kecil pada ayahnya karena ia tak diacuhkan.
Terdengar bunyi ban berdecit kencang diikuti dengan pintu mobil digebrakkan dari arah halaman parkir motel. Langkah-langkah berat datang bersamaan dengan bunyi gilasan antara roda-roda plastik dan kerikil jalanan. Seorang lelaki kecil ramping bertopi Yankees dengan koper berukuran sedang di sisi kanannya muncul di depan pintu. Lantas ia berkata mengenai niatnya untuk menyewa kamar beberapa hari. Orang ini agak rewel rupanya. Ia meminta sarapan diantar setiap pagi ke kamarnya. Ia juga akan memakai jasa binatu setiap harinya. Dan ia menginginkan dua piring spageti dan segelas bir saat ini juga. Maggie dan Matthew saling bertatapan.
“Nak, kau mau kuajak jalan-jalan keluar malam ini? Dadda akan  memperlihatkan kepadamu sesuatu.” Ajak kadal gurun bertotol merah yang lebih besar.
“Di luar dingin sekali Dadda, angin bertiup begitu kencang. Bahkan pemangsa malam pun sepertinya tak beringsut sama sekali dari tempatnya di malam yang dingin ini.”
“Tak akan terlalu dingin. Kau ikuti saja Dadda di belakang. Kita akan menikmati malam pergantian tahun di luar sana.”
Dadda bergerak cepat menyelinap keluar ruang penerima tamu menuju halaman parkir. Kadal gurun kecil megikutinya sigap. Kedua kadal gurun bertotol merah merayapi ban depan bawah kemudi Ford Sierra tua milik lelaki bertopi Yangkees tadi. Lelaki itu akan mampir sebentar ke kota lalu kembali lagi ke motel―pastinya tidak untuk suatu hal yang bersangkutan dengan perayaan malam pergantian tahun. Mereka akan cukup hangat dengan memperoleh tumpangan sampai di kota. Dalam perjalanan menuju kota, Dadda menyenandungkan lagu Beyond The Sea dengan cemerlang dalam frekuensi suara yang tak mampu didengar oleh manusia. Dan kadal gurun kecil mengikutinya dengan terbata-bata.

-o-

Jauh beberapa mil di belakang mobil pria bertopi Yankees tadi, “Kau mau kuambilkan brendi di gudang belakang, Maggie?” tanya Matthew kepada Maggie.

SELESAI

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Wahahahah, iya ya? Emang suka mbaca referensi tulisan2 cerpen klasik
      Mari belajar lebih dalam lagii...


      Terima kasih sudah membaca, =)

      Hapus