Selasa, 01 April 2014

Maulin Ni'am


LELAKU RINDU


Cinta tak melihat apa rupa persembahanmu
tak mendengar fasihnya bujuk rayu
tapi kesungguhanmu menjalani lelaku Rindu

Biarlah kerinduan itu memandumu
niscaya Dia sendiri yang akan membuka
lapis demi lapis tirai ketidaktahuanmu
mengeja alif ba ta ayat-ayat cinta

Hati para perindu serupa busur
meregang ditarik kencang
Tak sabar mengantar cinta 
Menjumpa wajah Kekasihnya

Apakah kau mengira
Kekasih membiarkan kita
mengumbar cinta tanpa mengujinya?!
Maka diciptakanlah ruang dan masa

adakah rasamu tetap sama
ketika kekasihmu berjarak jutaan tahun cahaya
ataukah rindumu kan berlalu
bersama tergelincirnya waktu

Beruntunglah kamu
Beruntunglah kamu
Beruntunglah kamu
Yang merasakan rindu
meski belum pernah bertemu

Wahai para perindu
ruang dan waktu menyimpan rahsia
jika Rasa itu hadir seketika
jangan kau tunda sedetikpun menyambutnya

Bukan rindu namanya
jika tak mampu membuat sesak dada
dan kau tahu pasti sesak itu bukan kesedihan
bukan pula kebahagiaan
atau justru sekaligus keduanya.

Wahai para perindu
dengarlah aku bersaksi
tiada tuhan selain Cinta
dan kerinduan adalah kekasihnya
Cinta, agamaku
Merindu, syari'atku

-Kota sejuta romansa, bulan Maulid 1435



"Pantesan kowe ngefans," celetuk Dias.

Iyo.
Raiso tak gapai.
Soale duwur banget.
Aku nginguk-nginguk seko jeding kamar mandi, via genteng koco.
Mas Ni'am bulan neng langit.
Sik permukaane bocel-bocel juga.
Tapi seko adoh nampak indah.
Kadang bunder purnama.
Kadang bunder setengah.
Kadang sabit celurit malaikat.
Tapi aku seneng ndelok bulan,
apapun bentuke.
Nerangi malam sik tanpa matahari.

2 komentar: