Selasa, 01 April 2014

Jejak Bagi Para Pecinta


"Aku merindukanmu,
Bersamamu di tempat itu,
Membaca buku favorit kita
Atau mungkin hanya kesukaanku saja?
Atau sekedar duduk di situ berdiskusi soal penulis favorit kita
Atau hanya kesukaanku saja?

Terkadang muka serius ketika bicara soal uniknya karya Sutardji Calzoum Bachri
Atau muka lembut nan romantis sesederhana puisinya Sapardi Djoko Damono
Atau muka mengkeret seruwet karya Taufik Ismail
Atau jika sudah mulai bosan maka kita akan bicara soal karya-karya Ahmad Tohari,
Atau Umar Kayam, Najib Kailany, atau karya konyol bin ajaibnya Sudjiwo Tedjo
Atau kritikan bernada serius dan sarkasme ala Cak Nun
Atau mungkin kita akan beralih ke zaman dulu
Bercerita soal isi buku Raffles, sampai ke buku Api Sejarah"

Oleh Yosi Mutiarni

Dan, saya merespon sebagai pengembangannya...


Kapan kau akan mulai membicarakan karyaku? 
Bukan hanya karya-karya orang lain saja yang kau baca.
Aku ingin karyaku kau bicarakan juga seperti kau membicarakan mereka, 
begitu antusias...

"Maka berkaryalah hai anak muda," jawabmu.

Aku ingin meninggalkan jejak bagi para pecinta.
"Beri kami bahan untuk bicara," tambahmu.

Kami?

Oleh Failasufa Karima A.N.

3 komentar: