Jumat, 02 Oktober 2020

Perbedaan Merawat Anak Kucing VS Merawat Anak

I have a story for you. Perbedaan merawat anak kucing dan anak manusia.


Eh bukan story, bukan. Opini saja.

Pertama kali saya akan membuka dengan kalimat,


Kalau ada orang berkomentar kepada Biruni, yang secara tidak langsung tentu saja mereka berbicara kepada saya, “Biruni sudah saatnya punya adek tuh!” Maka saya akan dengan tidak sopan berkata, “NUOOOOOO!!!!” Batinku, “Mbuahmu!”


Urusan anak, bukan saja soal tanggung jawab materiil, bukan lagi perkara rejeki Allah yang mengatur, namun lebih besar kepada tanggung jawab morilnya. Kesiapan mental kedua orang tuanya. Tapi kalo pun diberi rejeki anak, artinya memang sudah ketetapan Allah, yang artinya memang sudah kudu meningkatkan iman taqwa dan akhlakul karimah ke level lebih tinggi lagi.


Perkara anak kedua, ketiga, keempat, dst bagi saya saat ini masih lah berat. Kami berdua, terutama saya, bukan tipikal ibu-ibu perawat yang bersahaja. Malah lebih teliti suami saya soal teknis take care of another.


Akhirnya kami berdua memutuskan memilih hidup bertiga saja dulu sekarang, setahun lagi, dua tahun lagi, hingga waktu yang tak ditentukan.


Eh sekarang, ternyata Allah memberikan takdir lain. Baru beberapa hari yang lalu, seekor anak kucing datang kepada kami dengan kondisi lumpuh karena penyakit, bukan karena kecelakaan ataupun disakiti orang.


Well, kami berdua tidak tega dan akhirnya membawanya ke klinik Petsmile Doknyom dan endingnya merawatnya sampai waktu yang entah kapan, karena belom ada niatan untuk mengadopsinya.


Yang kami rasakan saat ini adalah, ternyata merawat hewan, stray cat kasusnya di sini, bisa menumbuhkan atau mengembangkan rasa cinta kasih kami berdua. Padahal kami tak pernah sama sekali memiliki hewan peliharaan. Jadi ini adalah pertama kalinya baik bagi suami maupun saya sendiri. Ternyata bukan hanya kepada anak saja rasa tersebut bisa berkembang. Namun kepada makhluk hidup yang sudah kami rawat dan jaga setiap harinya di dalam satu atap.


Akan tetapi inti dari tulisan yang akan saya sampaikan di sini adalah... Berbeda ukuran tanggung jawabnya antara merawat anak manusia dan merawat anak kucing. Kepada anak, dititipkan bekal untuk memupuk, menumbuhkan, mental, spiritual, dan intelejensinya. Kepada kucing tidak. Bedanya di situ. Kepada peliharaan, kita tak berharap apa-apa. Hanya berharap mereka sehat dan bahagia. Sudah. Berharap mereka punya banyak anak? Noooo.. kecuali memang sengaja diternakkan. 


Kepada anak, tak mudah untuk menumbuhkan rasa sesederhana sehat dan bahagia saja. Karena bagi manusia, sehat dan bahagia adalah merupakan perpaduan yang rumit dan lumayan sulit untuk dikelola. Alias harus pandai-pandai menejemen hati yang berbalik kepada kecerdasan emosi dan spiritual agar lebih kuat pegangan hidupnya dan tak mudah terombang ambing badai dunia. 


Kembali lagi, kecerdasan spiritual pun ternyata tak cukup untuk dapat menjamin hidup yang sehat. Kesehatan ada harganya pula. Kembali lagi ke materiil. Alhasil, semua sebaiknya dirangkul. Kecerdasan Spiritual, Intelegensi, dan emosi. Ternyata sulit ya untuk menyiapkan semua itu untuk anak? Karena merawat anak bukanlah hal mudah. Berbeda dengan merawat kucing. Walaupun merawat kucing pun bukan hal yang mudah pula. Mereka hanya berbeda beban dan tanggung jawab.


Lihat saja, anak kucing sudah bisa berjalan lancar ketika umurnya baru 1 atau 2 bulan? Anak manusia? 12 bulan sepertnya paling cepat. Anak kucing bisa lepas dari induknya sekitar usia 4 bulan. Anak manusia? Tentu saja sampai kuliah pun kadang masih membutuhkan sangat bantuan dari orang tuanya. Semua itu karena anak manusia perlu mengembangkan persoalan psikis, mental, emosi, dan kecerdasan-kecerdasan lainnya agar anak manusia bisa survive hidup di dunia yang lumayan carut marut ini.


Finn. Selamat berakhir pekan.

Jumat, 10 Februari 2017

Being In A Relationship Makes You Someone Else

nyomot dari google

Ini adalah postingan pertama saya di blog tahun 2017setelah sekian lama saya tidak ngeblog walaupun saya bukan seorang blogger. Lama sekali ya saya tidak ngeblog? Tidak nggedebus? Tidak nyampah puisi-puisi jahanam dan patah hati? Iya, karena saya masih disibukkan oleh urusan perumahtanggaan yang menurut saya baru. Lalu apa hal penting yang akhirnya membuat saya ingin menulis lagi? Yaitu, KEGELISAHAN. 

Saya gelisah, maka saya menulis. Saya gelisah tentang, keinginan saya yang ter-pause atau koma. Sudah empat bulan ini saya menikah dan saya tidak menulis esai ataupun cerpen, dan juga tidak menggambar. Holy crab! Saya main piano hanya ketika sedang marah saja. Ya! Main piano ketika marah saja. Jenius. Dan kalau ada waktu luang saya membaca buku atau main game atau cuddle-cuddle sama suami—sungguh, mata saya tidak bisa beralih dari suami kalau suami sudah sampai rumah, rasanya pengen peluk-peluk terus-terus-terus-terus  tidur. Sibuknya saya ya, kerja, urusan perumah tanggaan, beberes dan memasak dan kenyang setelah makan malam. Bukan saya tidak suka memasak, saya suka. Bukan saya tidak suka beberes. Saya suka. Namun hal tersebut tak henti-hentinya berjalan. Kemudian saya berpikir lagi, bagaimana nanti kalau anak saya lahir? Pasti saya akan sangat sibuk dan bisa-bisa saya makin tidak mengenali diri saya sendiri. Wah tidak boleh saya begini terus. Bisa berabe. Intinya saya harus naik level, bisa bagi waktu, tidak malas-malasan, dan tetap produktif pintar-pintar mencuri waktu agar saya tetap mengenal seorang Fela dalam diri saya sendiri. 

Sekarang saya merasa sangat ibu-ibu sekali, saya merasa kehilangan sebagian diri saya. Well, kalau kata Nadia, “being in a relationship makes you someone else, youre not 100 percent you anymore.” Saya yang dulu lumayan produktif walau tetap suka tidur, sekarang saya merasa produktif tetapi juga sungguh begitu tidak produktif. Saya produktif memasak, suami senang saya senang sekaligus lega. Tetapi saya kehilangan waktu untuk diri saya sendiri karena sudah terlanjur lelah ini itu. Oleh karena itu ini adalah langkah awal saya, menulis. Ya, saya akan menulis lagi. Tidak butuh banyak tenaga untuk menulis. Hanya butuh fokus. Sudah lama juga saya tidak menulis cerpen. Maka tulisan ini adalah proses awal pemanasan sebelum saya menulis cerpen lagi. Yay!

Lantas? Intinya, bersenang-senanglah selagi single! Lakukan apa yang kamu ingin lakukan (asal sesuai norma dan kaidah yang berlaku) selagi sempat. Mau mbisnis ya mbisnis, untung alhamdulillah, rugi ya yang menerima diri sendiri ga ada yang mencaci maki, wong hidup untuk diri sendiri. Untungnya juga jaman dulu saya sudah pernah mbolang, tentunya pakai tabungan sendiri. Sekarang? Boro-boro mbolang, karena semua pengeluaran harus diperhitungkan bos! Buat rencana masa depan, buat persiapan kelahiran, buat bayi, dan buat cicil rumah! Dunia sudah berubah brother setelah engkau menikah... Mencicil rumah... ternyata berat... Harga tanah semakin melambung... Yang ada yowes pasrah, urip sik duwe yo sik kuwoso. Sik penting manut bojo dan ikhlas... Dan pelan-pelan, saya akan menjadi dan menguasai diri sendiri lagi. I can do want i wanna do!

Nb: 
1. Tau ga? Ikhlas juga berat brother... Perlu belajar. Hayok belajar ikhlas. Lama-lama saya harus ikhlas untuk menjadi seorang istri dan ibu... Endingnya ini sok wise. Beneran. Saya tidak sebaik itu. Haha. Tapi saya harap saya bisa berubah untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

2. This is life. Ini realita. Hidup tidak seindah yang engkau bayangkan brother. Kita tinggal di Indonesia yang pemikirannya adalah setiap wanita harus menikah dan punya anak, kalau tidak saya akan dijuluki kamu perawan tua yang tidak laku dan mendapatkan sorotan mata kasihan dari para sesepuh, "kasihan kok tidak menikah-nikah dan belom ketemu jodoh, mungkin terlalu fokus karir atau terlalu idealis". Sekaligus saya juga seorang beragama Islam yang mana menikah adalah untuk menyalurkan hasrat birahi saya daripada dosa. Haha. Tidak-tidak. Tidak cuma itu maksudnya. Adalah untuk membuat anak melanjutkan keturunan yang nggenah dan bisa saya tanami kebaikan-kebaikan dan saya jejeli pemikiran saya biar ra kewer-kewer koyok wong saiki! Satu lagi, saya sudah jatuh cinta maka saya menikah. Saya senang melihat dia setiap hari dan tertawa.

Senin, 14 November 2016

Kenapa Kamu Pengen Menikah?

"Kenapa kamu pengen menikah?"
"Karena agar ada patner menyenangkan untuk mencicil rumah..."
"Sesimpel itu?"
"Yeah..."
"Kalo rumahnya sudah lunas?"
"Kan masih ada persoalan patner menyenangkan itu juga yang harus diurus... Karena urusan tentang dia ga akan pernah lunas sampai kapan pun. Saya senang mengurusnya."

Allah Memang Yang Maha Bercanda

Men.. saya balik lagi nulis. Yay! Biar tetep bisa dibilang punya blog lah, ga ditelantarkan doang. Kadang diisi, kadang (di)kosong(i)..


Jadi begini, now, i'm merried woman. Wow. I have a husband and i love him with all my mind and my heart. Ya kadang sebel-sebel kesel sampe pengen bilang, "gileee.. Guwa harus gini amat ya nikah sama orang kayak dia? Kampret dah! Pengen kabur.. kabur-kabur.. bakar-bakar.. Kabur aja deh.." Tapi ya kemudian itu cuma tercuat di pikiran doang, saya sebagai istri solihah gitu ga boleh maen kabur begitu aja kalo lagi marahan sama suami. Aturan di Islam kan kalo pergi harus ijin suami. Nah balik lagi ke adaptasi ya setelah berkeluarga, baik itu adaptasi kebiasaan, karakter, dan waktu! Obviously, Saya masih belom terbiasa dengan ritme emak-emak yang masak tiap hari--saya baru menikah 28 hari ya Allah, dan suami suka sekali dimasakin istrinya, bagaimana mungkin saya tega untuk tidak memasakkan suami menu makan siang dan makan malam?-- Suami sebenernya ga nuntut harus masak macem-macem sih, telur dadar aja dia udah suka. Cuma sayanya yang kesian kalo suami makannya itu-itu melulu, kan bosan ntar.. Akhirnya dengan saya yang belom biasa memasak dan belajar memasak dengan level di atas telur dadar, kan ya butuh waktu masak lama kan ya... Dan dar! Saya masih susah membagi waktu dengan diri saya sendiri (kayaknya saya kebanyakan procastination juga) baik itu menggambar atau pun membaca buku.

Kamis, 19 Mei 2016

S E D I H

F: "Eniwey, aku punya taneman kaktus, mati."
F: "Sedih."
P: "Iya, sedih ya kalo miara-miara terus mati,"
P: "Kucingnya Raditya Dika juga mati."
F: "Iya kasian patah hati pasti."
F: "Udah melihara terus mati."
F: "Aku kebanyakan air kalo nyirami kayaknya. Padahal daunnya kalo kena air busuk. Ini satu-satu daunnya busuk kena air. Sedih. Deh. Busuk. Trus mati."
F: "Kalo kucinge Raditya Dika mati kenapa?"
P: "Gak tau."
P: "Pulang-pulang dari New York. Mati."

Sedih.
Sekian dan terima kasih.

Kesedihanku semakin memburai. Perlahan-lahan kulihat dia membusuk terus menerus hingga menjadi humus.
Ia masih di dalam kamarku, yang kulihat terus setiap hari. Sedih.

Rabu, 18 Mei 2016

Mengayuh Perahu

Mukamu sendu, 
matamu sayu, 
lagumu mendayu-ndayu, 
ada apa wahai engkau kelabu? 
Mari mengayuh perahu bersamaku, *tok otok otok otok kemudian perahu siap dikemudikan*
Loh, perahuku bocor, waduh! 
Asu. Suasuasuasuasu. Asu.

Jumat, 13 Mei 2016

Cara Mendapat Makanan Gratis


Cara sering dapat makanan gratis di akhir bulan (walaupun ini belom akhir bulan) ala-ala Fela:

1. Bertemanlah dengan teman yang sering dan suka masak. Mereka pasti masak banyak karena jarang ada orang masak hanya untuk seorang saja. Nah sering-seringlah kamu ke dapur siapa tau ketemu mereka walaupun kamu ga tau namanya (duh, maap) pasti kamu nanti dapat seciprat dua ciprat bahkan banyak ciprat masakannya. Minim bisalah makan setengah porsi...

2. Bertemanlah dengan bakul-bakul makanan dan kenalilah dagangan mereka. Biasanya kalo malam atau mau tutup makanan/jajan mereka bakal dijual murah haha. Dan jadilah langganan mereka. Jikalau sudah akrab dan sering beli saat detik-detik terakhir mereka mau tutup, sesekali belilah makanan/jajanannya dalam jumlah banyak di jam normal/jam kantor lantas guyonilah mereka dengan berkata, "Ga ada bonuse ini Mas?" Lantas si penjual balik bertanya, "Mau yang mana?" "Bikang coklat saja," jawab saya.  Ambilan jajanan/makanan yang ketika sampai warungnya tutup jajanan/makanan tersebut jarang habis. Kata masnya yang jual, "Bikang itu jarang habis mbak, itu cuma sebagai pelengkap jualan saja supaya variasi jajanan saya banyak Mbak.."

Tambahan: Kalau sudah beli bikang banyak gitu dan ketambahan satu, kasihlah bikang tersebut kepada orang yang benar-benar lapar dan membutuhkan. Yak sip. Nah, dalam hal ini sayalah yang benar-benar butuh dan lapar.

Sekian dan terima kasih tips dari saya.

Happy not long weekend.

Jumat, 04 Desember 2015

Ningsih


She is my youngest dolan-dolan friend, 18 y.o. She said that she felt really old when she turned 18 y.o then I felt the pinch. "How could I go together with you guys, (the rongpuluhtahunan)?" she said that too. *plak.* Her name is Nikita, she came from Bantul. Because of that, we called her Ningsih. It seemed quite better than Nikita, our tongues always sliped when we said Nikita.

She always said "Astagfirullah" and "MasyaAllah" and "Subhanallah". Compared with my (impolite) words "asem ik" "nggapleki" etc, she is really polite girl.

When I visited Kasongan Bantul and I prayed Ashar in a mosque nearby after the adzan was echoed, I saw many people came into mosque and prayed ashar berjamaah. I was so amazed by them, because there was no habitual action like that in my current city, Jakarta.

Mbok-Mbok Jamu

Last Wednesday was an ordinary day. I woke up early morning. My mood was going wrong but no one realized it. I could do many activities as usual. I tidied up my room, i washed my dirty clothes, i hummed songs when i took a bath, then I went to work.

When i was walking alone to my office, i saw a stranger, a woman, mbok-mbok jamu, with my pointless sight but deeply. Actually, we didn't know each other. She looked at me back then she said, "Si Cantik" and smiled at me. I replied her and gave her my sweetest and sincerest smile. She could encourage me with her pure smile. In conclusion, we didn't need to know each others to give some good things to others.

Jumat, 18 September 2015

My Emak Once Said To Me



This is a graduation picture of my emak, many years ago, (I don't know the man who was standing beside her). My emak once said to me that she didn't use to get pleasure from teaching, obviously. Thus she never thought that she would become a lecture someday. Nevertheless, she has been teaching for twenty years more or less. Finally, she had to learn how to love what we had had. Then she loves being a lecture till now. Anyway, my emak never taught any school lessons to her children, she only said to us, "If you don't understand your school lessons, you may ask me, I'll teach you kids."

Selasa, 28 Juli 2015

Wonder Mothers

I always wonder why a mother cannot remember how to operate software or application in PC monitor or mobile phone still she can remember everything i ask to her, "Mak, do you know where my jacket is? I forgot where i put it down."

Then Nadia explained it clearly, "it's mothers matter."

Selasa, 21 Juli 2015

Mixed Colors Composition Of Human Face



Sardjono & Tasmilah got 4 children, Mbah Sulardi, Sudiharni (mbahku), Mbah Rum, and the last Mbah Garnadi. They had a huge number of great grandchildren.

--------

When i looked at my whole family members perfunctorily, suddenly I remembered what my teacher ever said to me, "God create people face in any various shape and color. None of them is perfectly similar to each others. It shows us that God has been being the most perfectly amazing creator in the world with His great Kunfayakun," more or less. Except how people can have any different face from each others, I also realize something arousing my curiousity. It is obviously true that God is perfectly amazing creator in the world and create human face without perfecly similar to each others, I don't deny it. However, His works is not merely KUN FAYAKUN LANGSUNG DADI. There is something undoubtly works into it. So I try to figure it out by using my logical method.

Let's make analogy. Every person has different mixed colors composition. Color Blue X=person X, Color Yellow Y=person Y. If person X marry person Y, then they will have kiddos with Color Green XY1, Color Green XY2, etc. The kiddos will be similar to each others but they still have the different looks (look the number of XY1,2,3). It looks like Color Blue and Color Yellow are blending one another. So every kiddos also has mixed colors composition. As if we mix the Color Blue and Color Yellow on water color pallete for twice or third times or more at different times. So every outcomes doesn't really similar to the result which we mix it every single times. It depends on the composition matter. How much volume and how strong the blue and the yellow are mixing one another.

Then their every kiddos will marry person C or person D or person H or person E or none of them. And they will have any babies with any mixed colors complection again, the example are Brown CD1, Brown EH2, etc. The change process will bulit its mixed colors composition gradually and continually. Just imagine pohon faktor or silsilah keluarga if you can't understand my explanation. It has plentiful of mixed colors composition, so the process and the outcome are like blending colors composition in water color pallete.

In other words, God works on the people face matter by mixing colors composition in genetics method. Do you get my explanation? I don't think so. Don't take it too serious, dude. I am just soliluquizing.


Rabu, 08 Juli 2015

Liberty Statue is The Amusing Athena

I dreamed about New York and Liberty Statue this morning. I went to NY by boat through time machine at wee hour. When the night came, the peripheral of Liberty Island was flooded till the neck of Liberty Statue high point. So it was the golden time to smuggle my self in, together with one of my siblings/friends (I couldn't remember who she/he is). We came into it succesfully. Though, slightly strange, there was no crown on the top of Liberty Statue. Then we saw The Helmet of Liberty Statue flew above the flooding area, nearby The Liberty Statue standing point. The Liberty Statue caught it swiftly. I figured it out that she was like The Amusing Athena, one of beautiful goddesses that I adore her so much. While we were seeing that amusing goddess from a tiny boat, I was totally mesmerized. It was happened in front of my eyes.


After seeing the stunning photograph previously, We went to a statue maker in the slump area. I supposed we were under a bridge. I wanted the statue maker making me a mock of Liberty Statue for $15 (I thought he was going to sell it for $29 more or less, but he accepted the cost that I had offered him, $15). There were many mocks of Liberty Statue with European faces in his showroom. He made all the odd statues and proudly showed it off to us. I was curious a bit about who he was... Where he came from.. He had an Asian face, dark skin, kinky hair, and average high, 160 cm I supposed. His English was not fluently enough. Then I figured it out and suddenly I just knew that he was Indonesian. Hahahaha. Like us. We were brothers.



And then, I also saw a neighbor. He was a painter. Same artists remained here, under the bridge, I thought. When we came to him, he was painting on the canvas by spidols. I thought he was little stupid. He brushed all of the canvas by waxing it off for the finishing. I supposed, he was going to sell it not really expensive, I was pretty sure on it.. Because he was a slump painter. And his painting was a bit clumsy and filthy like hell. His painting was talking about a painter who was painting on the canvas by spidols, and the painter who was in the painting was squating down. What stupid you were (whereas, I also painted on that position once in a while). Anyhow, His painter painting was rather like slightly calligraphy style on every corners of his canvas-he loved to scratch it there.



At the end of my dream, I woke up. My consciousness came out a half way. I thought that today was Friday and I could go back sleep then. After a few seconds, I realized what today was, it was Wednesday. Eventually I knew that I was late to go work. But, wait a second, Friday was also a weekday, right? So it was basically the same with wednesday. How could I miss it? I had to wake up now!

Kamis, 02 Juli 2015

Gossiping

"Women and their complicated situation," He said.
"Women have that things. Because of that, i'm scared of women since i was young. Unfortunately me," i said.
"And... You are a woman..." He said.
"To be honest, I'm scared of myself too.. Women (most of them are emak-emak, i don't know why they do that, is that a kind of culture?) often gossip one another, i hate it for sure. I usually close my ears with earphone when it's started. They irritate me with the nonsense rumors. It can influence my point of view about objects of the gossip. Sometimes when i can't endure my emotion by them, i usually tell my madness to anyone else... 'Man.. I'm getting cheesed off for real.'
I hate it then... It seems like vicious circle. Bang!" 
"Woman are indeed...complicated," He said.
"I think i'm in pms mode..."
"And i think i need to go now..." He nodded, "bye."
"Bye," i waved.

End.

Jumat, 22 Mei 2015

The Coming Visitors


The Coming Visitors, my illustration 20 Mei 2015

I tried to visualize my first dream that i've rescued successfully from fading childhood memories. It was a nightmare for a five y.o. girl. The wolf was a substitute form of a dark angel from my dream. I thought that he was a gruesome angel. But he tried to save me from a big snake. He gave me an instruction, "Give the rose to the snake. It will scare of the snake. Then the snake will walk away from you." So i figured out about something, first impressions were important but not to judge the book by its cover.

But in this illustration, i changed the story a bit. The wolf and the snake were antagonist. Hahahahah. In fact, I did't have a heart to draw a dark angel, frightened me.

Sabtu, 02 Mei 2015

A Story About Gecko


This is my old drawing, The Two Jerks and The Lady With The Red Wine.

I'm posting it because I have to tell you a story.. About a gecko in the middle of the night..

When I walked alone at the terrace of a building, I saw a gecko hung down beneath the ceiling. So, I thought that all geckos could be against the earth gravitation. That's hilarious! Then I made some hums to talk with. "Hmmm hmmm hmmm ck ck ck gecko gecko!" I said. The meaning is "Hei Gecko, you're incredibly hilarious. You're a tiny little living creature and you should be called as alien too, like other creatures from the outer space! Anyway, did you know that alien in earth were an unacceptable illegal creature? You certainly didn't know it! Meanwhile, you're an acceptable creature here! That's funny."

At the ceiling, the gecko licked his/her right-eye then gave me three seconds of glimpse. Eventually, the gecko walked into the building crawly and proudly. I guessed that the gecko was trying to look like a biawak, the bigger fatter lizard. What a bigheaded you are! That's impolite way to say goodbye! I hate you! I hate you, gecko! I hate you tremendously.

There's something wrong in this planet.

End.

Selasa, 10 Maret 2015

Cintaku Hanya Seharga Kopi Sasetan


Tuhanku sayang, hari ini saya berpuasa niat ingsun karenaMu.
Tuhan, Engkau kan tau, karena Engkau telah mengenalku begitu dalam dan akrab, saya ini sangat cinta dengan kopi. Sehingga jadi selama ini saya sering batal puasa dikarenakan kopi yang ngawe-ngawe di sana sini.
Baunya ya Tuhanku sayang... Wangi sekali...
Rasanya joss! Cespleng! Rasanya semua badan saya langsung gerak gegap gempita semua.
Rasanya, bokong saya ditendang berkali-kali dan berapi-api oleh si kopi.


Pokoknya hari ini Tuhan, puasa saya tidak akan batal lagi hanya karena secangkir kopi sasetan. Murahan sekali saya. Cintaku hanya seharga kopi sasetan. Malu sekali andaikata saya begitu. Pasti malu sekali! Malu. Malu. Malu. Malu-malu mau.


Maka saya ulangi, hari ini saya puasa niat ingsun karenaMu. Masak cintaku padaMu kalah dengan cintaku pada kopi. Saya tidak semurahan itu. Tidak Tuhan! Sungguh-sungguh tidak!


Jam habis dimakan menit.
Menit habis dimakan detik.
Detik habis dimakan waktu yang tak habis-habis.
Gelisahku dengan kopi pun tak habis-habis.
Sudah waktu dhuhur,
bagaimana kalau saya puasa bhedug saja ya Tuhanku sayang? Aduh... pliss... 
Tuhan maafkan aku, ahhh... Hamba khilaf. Kopi menggodaku, Tuhan tolong kuatkan imanku, mbak-mbak cantik di depanku sudah menyajikan kopi sasetan merek baru entah apa karena aromanya wangi sekali dan saya baru kenal baunya siang ini. 
Ah kopi ini setan. Mbak-mbak yang tadi baru saja lewat memang cantik tapi saya lebih kesetanan dengan kopi daripada mbak-mbak tadi.
Tuhan plisss tolong kuatkan imanku. Kuatkan cintaku padamu. Bukan pada kopi. Hamba tak sudi semurahan itu.
Cintaku padaMu tak semurahan itu!
Masak kalah dengan kopi?
Baru juga godaan kopi. Bagaimana dengan godaan lainnya? 
Oh Tuhanku sayang, selamatkan hamba.
Cintaku padaMu tak semurahan itu!


Namun perkaranya tak semudah itu!
Kopi dimana-mana.
Kopi masih dimana-mana.
Jalan ke sana kopi.
Jalan ke situ kopi.
Saya ada di pabrik kopi.
Saya dibayar untuk mengantar kopi-kopi sasetan yang sudah terseduh di cangkir kepada para pembesar.
Sudah waktu dhuhur, bagaimana kalau saya puasa bhedug saja ya Tuhanku sayang?


Henpon-ku berdering, ternyata istriku menelepon,
"Sabar ya sayang... Waktu dhuhur telah tiba, sebentar lagi. Sudah setengah jalan... Sabar ya sayang..."
Tuhan, Engkau menyelamatkanku!
Terima kasih ya Tuhanku, Engkau menolongku.
Engkau menciptakan istri sehebat itu.
Tentu aku lebih mencintai istriku daripada jahanam kopi-kopi sasetan itu.
Kugunakan logika berpikir, sudah setengah jalan, dan aku tak mau semurahan itu.
Cintaku tak hanya seharga kopi sasetan!

Sabtu, 21 Februari 2015

Sajak Kamu Tau



"Kamu tau apa yang menarik dari bulan Februari?"

"Apa?"

"Yang paling menarik dari bulan Februari itu, jumlah harinya cukup 28 hari saja mentok-mentok tambah satu hari jadi 29 hari, itu pun dalam empat tahun sekali. Ga tau ya kamu?"

"Tau. Kamu tau, telat sehari aja lahirku jadi tanggal 29 Februari."

"Tau. Kamu tau apa yang paling menarik dari bulan Maret?"

"Apa?"

"Yang paling menarik dari bulan Maret itu, hari turun gaji jadi lebih cepat beberapa hari dibandingkan bulan-bulan sebelumnya."

"Oh... Hahaha."

"Kalo ini tau ga?"

"Apa?"

"Kamu tau apa yang paling menarik dari kamu?"

"................."

"Kenapa gitu jawabannya, harusnya kamu tanya balik, 'Apa?', memang kamu tau jawabannya?"

"Apa?"

"Yang paling menarik dari kamu itu, ngguyumu yang kayak bekicot. Matamu yang kayak kucing. Alismu yang kayak ulet. Dan rambutmu yang kayak ijuk, semuanya kalo digabungin jadi satu, jadi kayak ga singkron. Tapi aku suka yang ga singkron-singkron."

Jumat, 30 Januari 2015

KOJI TADANOBU

| Oleh Failasufa Karima An-Nizhamiya
“... Kendaraan terpantau padat merayap di bilangan Ikeboukou Street ke arah Bang Bang Pink Street. Sementara Di Otonokame Street kendaraan berjalan lancar. Sekian laporan lalu lintas oleh Mister Traffic-man 007 dari Yoruba FM.” Laporan lalu lintas radio berirama staccato dengan ketukan satu per delapan birama dan dilatarbelakangi musik yang seolah-olah mengajaknya berlari cepat-cepat menggema dalam studio kerja Koji Tadanobu. Gabungan antara musik dan laporan lalu lintas berketukan pendek dan terburu-buru identik dengan suasana pengap, menghimpit, dan penuh oleh kepulan asap di tengah kota. Tadanobu benci bersentuhan dengan suasana seperti itu. Padahal Tadanobu sendiri sekarang sedang berada di dalamnya namun secara tak langsung ia tak tersentuh dari dunia luar yang morat-marit. Semua dinding ruang kerjanya dilapisi oleh peredam suara kualitas terbaik―tentu saja demi memperoleh ketenangan dalam dunia rekaannya sendiri. Tadanobu sangat bergantung pada keadaan yang berada sesuai pada tempatnya, sesuai pada koordinatnya masing-masing, dan sesuai pada jalur orbitnya. Beruntung selanjutnya Yoruba FM memutarkan lagu “Till Death Do Us Part”-nya White Lion. Memang judulnya terdengar agak melankolis dan mendayu-dayu, sangat bukan Tadanobu. Namun siapa peduli, yang penting musiknya mengalun perlahan. Semut-semut di dinding pun turut berjalan berbaris lagi membuat garis berlenggak-lenggok bak seorang penari. Sepertinya ketegangan otot-otot Tadanobu pun sudah mulai mereda.
Kertas gambar yang sudah berisi panel-panel gambar dan sketsa-sketsa pensil, ia pandangi lekat-lekat. Semenit empat puluh detik ia terdiam tak bergerak—mungkin sempat tak bernafas beberapa detik— lantas diteguknya secangkir kopi dingin di sudut kanan meja, ia letakkan lagi cangkir kopi yang tinggal ampasnya saja, kemudian mematung lagi tak lebih dari semenit. Segera setelah itu diambilnya penghapus dan digosok-gosokkan ke beberapa panel sketsa pensilnya. Lalu ia menggambar lagi di atas panel-panel yang telah menjadi kosong. Proses yang sama pun berulang kembali hingga delapan kali dalam sehari. Pemandangan tersebut sudah menjadi hal lumrah ketika Tadanobu sedang menggarap projek mingguan untuk koran minggu. Sehingga apabila dikalkulasikan, Tadanobu bisa mengulang proses seperti itu dalam seminggu, kurang lebih lima puluh enam kali, dan dalam sebulan bisa lima ratus dua puluh empat kali, dan seterusnya-dan seterusnya. Barangkali Tadanobu akan mati muda. Sesungguhnya Tadanobu menikmati proses pengulangan-pengulangan semacam itu. Dan ia tak akan begitu peduli seumpama ia mati karena hal tersebut, asalkan segalanya berjalan secara semestinya. Karena yang terpenting baginya adalah ke-te-ra-tu-ran.
“Tadanobu!” teriak pemilik warung oden pinggir jalan, “Kemarilah! Merapat ke sini. Mampir dulu, hujan.” Memang hujan tidak begitu deras. Namun hujan rintik-rintik dengan semangkuk oden adalah persekongkolan yang pantas.
Tadanobu sedikit mengangkat dagunya ke arah pemilik warung oden seraya mengangkat tangan kanannya sebagai pengganti kata, “lain waktu saja saya mampir,” seperti itu. Tadanobu melanjutkan perjalanannya.
Ia melewati puluhan tempat makan, satu kantor Japanese Red Cross Society—lucu sekali ada tempat donor darah di antara banyak tempat makan, agak mencolok dan tidak sesuai, dunia yang dipijak Tadanobu terbuncang—, dan satu toko piringan hitam sebelum sampai di Stasiun Danbashi. Jarak yang ditempuh dari studionya ke Stasiun Danbashi adalah sejauh satu setengah kilometer. Akan tetapi Tadanobu dapat memotong jalan menjadi setengahnya apabila ia masuk toko piringan hitam “Beside You” lantas keluar melalui pintu belakangnya. Dari pintu belakang Toko “Beside You” pintu itu bisa langsung tembus sampai ke jalan utama menuju Stasiun Danbashi. Untuk dapat menembus toko tersebut, Tadanobu perlu usaha ekstra—semacam tiket masuk tak tertulis. Ia rela merogoh koceknya demi mengurangi jumlah ketidakteraturan yang akan ia dapatkan apabila ia berjalan di rute normalnya ke Stasiun Danbashi. Ia menjadi rajin membeli piringan hitam sebulan sekali. Ia juga membeli turntable bekas di toko tersebut. Beruntung pula bagi Tadanobu selain karena toko itu tidak terlalu ramai pembeli juga karena penjaga toko “Beside You” adalah seorang wanita yang ramah dan menyenangkan. Wajahnya tidak cantik juga tidak jelek, tetapi cukup mengesankan dan menarik. Dagunya hampir menyatu dengan lehernya, seperti tidak ada garis batas yang jelas antara dagu dan leher, tetapi bukan tipe leher yang bertumpuk karena lemak. Kepalanya mungil. Bentuk mukanya seperti kacang kenari. Rambut hitam lurus sebahu dengan poni pendek yang jatuh secara alami. Alisnya lurus tetapi cukup tebal untuk seorang wanita. Jarak antara kedua matanya terkesan agak terlalu jauh padahal semisal diukur dengan penggaris sepertinya masih terhitung dalam jarak yang semestinya. Diluar semua ketidaksinkronan bentuk, ukuran, dan proporsi wajahnya, matanya bening dan memiliki sorot ketenangan yang tak tergoyahkan. Ia juga tergolong wanita yang berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. Ia masih tetap hangat dan informatif walaupun melayani para pengunjung yang sekedar mampir untuk menggodanya. Ia sering mengajak ngobrol para pelanggannya tak terkecuali Tadanobu. “Selamat datang Tuan Tadanobu, bagaimana hari Anda petang ini?” adalah sapaan khas si wanita kepada Tadanobu. Tadanobu tidak menjawab. Walaupun begitu, sering si wanita mengutarakan gagasannya seketika itu juga kepada Tadanobu, “Potongan rambut Anda agak sedikit berbeda. Menjadi terlihat lebih segar.” Tadanobu diam saja. Akan tetapi jika si wanita penjaga toko beruntung, Tadanobu akan membalas dengan senyum singkat saja. Tadanobu tergolong tipe orang yang bergerak berdasarkan kepentingannya belaka. Ia cuma akan menanyakan tentang piringan-piringan hitam dan aksesoris turntable saja.
Akan tetapi kali ini Tadanobu tak melihat sosok si wanita tersebut manakala menembus Toko “Beside You”. Secara tidak sadar, Tadanobu sekonyong-konyong memiringkan kepalanya ke kiri sedikit. Suasana menjadi sunyi seketika tanpa racauan berbagai macam bunyi yang bercampur aduk. Tak ada suara yang masuk ke gendang telinganya sekitar dua puluh tiga detik. Posisi kepalanya masih tetap miring sampai gendang telinganya dapat menangkap gelombang suara lagi. Aneh. Harusnya saat ini juga si wanita masih dalam jadwal shift menjaga toko. Tidak biasanya. Mungkin sakit, pikirnya. Atau ada keperluan, pikirnya lagi. Tanpa bertanya tentang si wanita murah senyum kepada penjaga toko penggantinya, Tadanobu melanjutkan  menembus Toko “Beside You” sambil mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah mengijinkannya lewat. Si penjaga pengganti membalas senyuman Tadanobu dengan dengusan pendek.

Minggu, 25 Januari 2015

Telepon


Telepon berdering tak henti-henti. Dering yang tanpa ujung. Hening. Berdering lagi. Mengganggu tidur.
"Halo."
"Fel, wes maem?"
Fela mengangguk.
"Fel, wes maem?"
Fela mengangguk lagi.
"Fel, wes maem durung? Kok ket mau tak takoni ra njawab?"
"Kan aku wes njawab."
"Njawab opo?"
"Aku wes ngangguk yo..."
Hening di kejauhan. Lantas halilintar menggelegar,
"Iki kan neng telepon. Aku yo ra reti nek kowe ngangguk."

Seharusnya anggukan atau gelengan antar saluran telepon sudah bisa terbaca dari jauh. Seharusnya manusia lebih banyak mendengarkan dan membaca pertanda. #ikingomongopotoyoh *percakapan sembilan tahun silam. *ra ono hubungane karo foto kucing. *tapi kucinge lucu. *pemanasan nulis, nulis cerpen sik tokohe ra kongret.