Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

Allah Memang Yang Maha Bercanda

Men.. saya balik lagi nulis. Yay! Biar tetep bisa dibilang punya blog lah, ga ditelantarkan doang. Kadang diisi, kadang (di)kosong(i)..


Jadi begini, now, i'm merried woman. Wow. I have a husband and i love him with all my mind and my heart. Ya kadang sebel-sebel kesel sampe pengen bilang, "gileee.. Guwa harus gini amat ya nikah sama orang kayak dia? Kampret dah! Pengen kabur.. kabur-kabur.. bakar-bakar.. Kabur aja deh.." Tapi ya kemudian itu cuma tercuat di pikiran doang, saya sebagai istri solihah gitu ga boleh maen kabur begitu aja kalo lagi marahan sama suami. Aturan di Islam kan kalo pergi harus ijin suami. Nah balik lagi ke adaptasi ya setelah berkeluarga, baik itu adaptasi kebiasaan, karakter, dan waktu! Obviously, Saya masih belom terbiasa dengan ritme emak-emak yang masak tiap hari--saya baru menikah 28 hari ya Allah, dan suami suka sekali dimasakin istrinya, bagaimana mungkin saya tega untuk tidak memasakkan suami menu makan siang dan makan malam?-- Suami sebenernya ga nuntut harus masak macem-macem sih, telur dadar aja dia udah suka. Cuma sayanya yang kesian kalo suami makannya itu-itu melulu, kan bosan ntar.. Akhirnya dengan saya yang belom biasa memasak dan belajar memasak dengan level di atas telur dadar, kan ya butuh waktu masak lama kan ya... Dan dar! Saya masih susah membagi waktu dengan diri saya sendiri (kayaknya saya kebanyakan procastination juga) baik itu menggambar atau pun membaca buku.

Selasa, 10 Maret 2015

Cintaku Hanya Seharga Kopi Sasetan


Tuhanku sayang, hari ini saya berpuasa niat ingsun karenaMu.
Tuhan, Engkau kan tau, karena Engkau telah mengenalku begitu dalam dan akrab, saya ini sangat cinta dengan kopi. Sehingga jadi selama ini saya sering batal puasa dikarenakan kopi yang ngawe-ngawe di sana sini.
Baunya ya Tuhanku sayang... Wangi sekali...
Rasanya joss! Cespleng! Rasanya semua badan saya langsung gerak gegap gempita semua.
Rasanya, bokong saya ditendang berkali-kali dan berapi-api oleh si kopi.


Pokoknya hari ini Tuhan, puasa saya tidak akan batal lagi hanya karena secangkir kopi sasetan. Murahan sekali saya. Cintaku hanya seharga kopi sasetan. Malu sekali andaikata saya begitu. Pasti malu sekali! Malu. Malu. Malu. Malu-malu mau.


Maka saya ulangi, hari ini saya puasa niat ingsun karenaMu. Masak cintaku padaMu kalah dengan cintaku pada kopi. Saya tidak semurahan itu. Tidak Tuhan! Sungguh-sungguh tidak!


Jam habis dimakan menit.
Menit habis dimakan detik.
Detik habis dimakan waktu yang tak habis-habis.
Gelisahku dengan kopi pun tak habis-habis.
Sudah waktu dhuhur,
bagaimana kalau saya puasa bhedug saja ya Tuhanku sayang? Aduh... pliss... 
Tuhan maafkan aku, ahhh... Hamba khilaf. Kopi menggodaku, Tuhan tolong kuatkan imanku, mbak-mbak cantik di depanku sudah menyajikan kopi sasetan merek baru entah apa karena aromanya wangi sekali dan saya baru kenal baunya siang ini. 
Ah kopi ini setan. Mbak-mbak yang tadi baru saja lewat memang cantik tapi saya lebih kesetanan dengan kopi daripada mbak-mbak tadi.
Tuhan plisss tolong kuatkan imanku. Kuatkan cintaku padamu. Bukan pada kopi. Hamba tak sudi semurahan itu.
Cintaku padaMu tak semurahan itu!
Masak kalah dengan kopi?
Baru juga godaan kopi. Bagaimana dengan godaan lainnya? 
Oh Tuhanku sayang, selamatkan hamba.
Cintaku padaMu tak semurahan itu!


Namun perkaranya tak semudah itu!
Kopi dimana-mana.
Kopi masih dimana-mana.
Jalan ke sana kopi.
Jalan ke situ kopi.
Saya ada di pabrik kopi.
Saya dibayar untuk mengantar kopi-kopi sasetan yang sudah terseduh di cangkir kepada para pembesar.
Sudah waktu dhuhur, bagaimana kalau saya puasa bhedug saja ya Tuhanku sayang?


Henpon-ku berdering, ternyata istriku menelepon,
"Sabar ya sayang... Waktu dhuhur telah tiba, sebentar lagi. Sudah setengah jalan... Sabar ya sayang..."
Tuhan, Engkau menyelamatkanku!
Terima kasih ya Tuhanku, Engkau menolongku.
Engkau menciptakan istri sehebat itu.
Tentu aku lebih mencintai istriku daripada jahanam kopi-kopi sasetan itu.
Kugunakan logika berpikir, sudah setengah jalan, dan aku tak mau semurahan itu.
Cintaku tak hanya seharga kopi sasetan!

Kamis, 08 Januari 2015

B O L O N G




Kosong dalam bolong yang melompong.
Gigi berasa ompong tak mampu menolong.
Omong kosong.
Sesungguhnya kosong ini serupa dengan anjing melolong.
Jadi, aku ini macam anjing melolong?
Melolong minta ditolong.
Tolong, tolonglah hambaMu yang kosong.
Kosong selalu mencariMu ke langit yang bolong.


Selagi kutengadahkan wajah ke langitMu,
kutemukan langit itu bolong, bolong hingga menuju rumahMu.
Sebentuk lubang di langitMu.
Kata para orang pintar, itu Worm Hole.
Apakah aku harus terbang ke langit, mengantar surat untukMu,
lantas kutitipkan surat di bolongnya langit hingga sampai padaMu?
Itu agar Engkau menolongku.
Aku butuh ditolong.
Akan kutulis surat minta disokong.
Sokong jiwaku yang ompong.
Menuju langitMu yang bolong.


Rasanya lama kutak singgah dalam pangkuanMu.
Lama kutak merayuMu.
Engkau pasti suka dibujuk, dicumbu, dan dirayu.
Nanti pasti kutulis surat rayuan pula untukMu.


Tuhan, dimana alamat rumahMu?
Ba'da magrib nanti aku akan naik ke langitMu yang bolong,
kukirim surat ini padaMu.
Ladalah, aku malah ngeblog,
gobloknya aku.


Harusnya kuemail saja padaMu.
Tuhan, mana alamat emailMu?
Jadi aku tak perlu naik ke langitMu yang bolong.
Capek. Aku mau tidur. Mungkin sampai ngorok.


Dan Tuhan menggaplok ndasku.
Sakit yo...

Rabu, 09 April 2014

Senin, 07 April 2014

I'm In Love With A Stranger

“You will remember this day, because I am a stranger. If you know my name, I am no longer stranger.”
~stranger (ngutip dari twittnya @aMrazing) 



Dan kemudian, saya tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan kesekian, kepada orang yang bernama,
Hendra.



"Mas, punya sisir?"
"Enggak."
"Kok enggak? Gimana sisirannya? Rambutnya kan gondrong."
"Oh, tinggal digini-giniin doang," lalu ia menyibak-nyibak poninya ke atas ke samping dan puk-puk, rapi seketika. WOW!



Satu kali ketemu, kukira engkau orang yang menyeramkan...
Dua kali ketemu, engkau orang yang menyenangkan...
Tapi saya masih biasa saja.
Tapi sebenarnya saya membatin, engkau lumayan manis juga lama kelamaan.



Terakhir ketemu, ketika engkau sedang bekerja sebagai seorang fotografer, tiba-tiba, mata saya selalu mencari sosokmu. Susah kutemukan. Karena penuh orang berlalu-lalang di acara resepsi Ukie & Rizal.
Abimanyu, Dion, dan mas Beng-Beng mengajak kami pulang. Acara resepsi selesai, foto-foto alay kita selesai.
"Nyu, masnya tadi ilang... Aku belom liat lagi... Yah, kita udah mau pulang aja..." kataku kepada Abimanyu.
dan ketika kami pulang ke arah pintu keluar, tiba-tiba, sosoknya datang dan menuju ke arahku, ia bertanya,
"Pulang?"
Aku hanya mampu menjawab dengan mengangguk-angguk kikuk. Abimanyu pun tertawa terpingkal-pingkal.
Dan setelah itu, saya tak bertemu denganmu lagi.



Serendepity!
Jadi, kapan kita ketemu lagi?
Bahkan saya tidak tau kontakmu.




Eniwey, baju saya masih untuk ke kondangan Ukie & Rizal masih muat dong... 




Thank God, I'm in Love, again. :)

Selasa, 01 April 2014

Maulin Ni'am


LELAKU RINDU


Cinta tak melihat apa rupa persembahanmu
tak mendengar fasihnya bujuk rayu
tapi kesungguhanmu menjalani lelaku Rindu

Biarlah kerinduan itu memandumu
niscaya Dia sendiri yang akan membuka
lapis demi lapis tirai ketidaktahuanmu
mengeja alif ba ta ayat-ayat cinta

Hati para perindu serupa busur
meregang ditarik kencang
Tak sabar mengantar cinta 
Menjumpa wajah Kekasihnya

Apakah kau mengira
Kekasih membiarkan kita
mengumbar cinta tanpa mengujinya?!
Maka diciptakanlah ruang dan masa

adakah rasamu tetap sama
ketika kekasihmu berjarak jutaan tahun cahaya
ataukah rindumu kan berlalu
bersama tergelincirnya waktu

Beruntunglah kamu
Beruntunglah kamu
Beruntunglah kamu
Yang merasakan rindu
meski belum pernah bertemu

Wahai para perindu
ruang dan waktu menyimpan rahsia
jika Rasa itu hadir seketika
jangan kau tunda sedetikpun menyambutnya

Bukan rindu namanya
jika tak mampu membuat sesak dada
dan kau tahu pasti sesak itu bukan kesedihan
bukan pula kebahagiaan
atau justru sekaligus keduanya.

Wahai para perindu
dengarlah aku bersaksi
tiada tuhan selain Cinta
dan kerinduan adalah kekasihnya
Cinta, agamaku
Merindu, syari'atku

-Kota sejuta romansa, bulan Maulid 1435



"Pantesan kowe ngefans," celetuk Dias.

Iyo.
Raiso tak gapai.
Soale duwur banget.
Aku nginguk-nginguk seko jeding kamar mandi, via genteng koco.
Mas Ni'am bulan neng langit.
Sik permukaane bocel-bocel juga.
Tapi seko adoh nampak indah.
Kadang bunder purnama.
Kadang bunder setengah.
Kadang sabit celurit malaikat.
Tapi aku seneng ndelok bulan,
apapun bentuke.
Nerangi malam sik tanpa matahari.

Jejak Bagi Para Pecinta


"Aku merindukanmu,
Bersamamu di tempat itu,
Membaca buku favorit kita
Atau mungkin hanya kesukaanku saja?
Atau sekedar duduk di situ berdiskusi soal penulis favorit kita
Atau hanya kesukaanku saja?

Terkadang muka serius ketika bicara soal uniknya karya Sutardji Calzoum Bachri
Atau muka lembut nan romantis sesederhana puisinya Sapardi Djoko Damono
Atau muka mengkeret seruwet karya Taufik Ismail
Atau jika sudah mulai bosan maka kita akan bicara soal karya-karya Ahmad Tohari,
Atau Umar Kayam, Najib Kailany, atau karya konyol bin ajaibnya Sudjiwo Tedjo
Atau kritikan bernada serius dan sarkasme ala Cak Nun
Atau mungkin kita akan beralih ke zaman dulu
Bercerita soal isi buku Raffles, sampai ke buku Api Sejarah"

Oleh Yosi Mutiarni

Dan, saya merespon sebagai pengembangannya...


Kapan kau akan mulai membicarakan karyaku? 
Bukan hanya karya-karya orang lain saja yang kau baca.
Aku ingin karyaku kau bicarakan juga seperti kau membicarakan mereka, 
begitu antusias...

"Maka berkaryalah hai anak muda," jawabmu.

Aku ingin meninggalkan jejak bagi para pecinta.
"Beri kami bahan untuk bicara," tambahmu.

Kami?

Oleh Failasufa Karima A.N.

Jumat, 28 Februari 2014

Mekanisme Cinta

BHA! Masih duet bersama kawan saya, Ajeng Setyo Wardhani. Dia memberi saya tema lagi. Judulnya tadinya Mekanisme Jatuh Cinta. Sayangnya, saya rada risih pake bahasa Jatuh Cinta, jadi saya ubah jadi Mekanisme Cinta saja. Biar nanti bisa kembali pada Cinta-Nya... Oh I Love You!



Saya dan Ajeng sebenarnya agak-agak mirip dengan sejarah yang mirip juga, makanya kami cocok dan berteman, oiya warna kulitnya juga sama, coklat-coklat pahit kek dark chocolate. Maen sama Ajeng ini, kayak maen sama belahan jiwa gitu deh, ada sih satu lagi belahan jiwa lain selain Ajeng yang temannya Ajeng, sayangnya lakik! Ntar kalau kami masukin ke grup sini, bisa-bisa saya naksir dia. Ogah. Terlalu belahan jiwa. Sama-sama panas. Adeuh apapula ini... Sebenernya saya ini naksir Ajeng, orangnya menarik sih, walaupun agak creepy-creepy gitu, dia pinter. Apalagi kalau ia menyanyi, enak di kuping. Anget. Dia juga pinter ngupasin kulit jeruk satu-satu dan rapi. Nah, kulit jeruk ini adalah masalah-masalah. Oke sekian soal Ajeng. Kembali ke topik.



Yang namanya Fall in Love ini, kan ya seneng berbunga-bunga gitu kan? Tapi ati-ati, kalau salah pengelolaannya, nanti otakmu mendidih. Sebelum mendidih pada akhirnya, otakmu jadi agar-agar dahulu kemudian sedikit demi sedikit ia akan mendidih lalu meleleh dan lama-lama otakmu ilang mencair luruh ga berbekas! Berbekas sih, rasanya aja, tapi ga ada isinya, ga ada volumenya, ga ada beratnya, ga ada bukti konkretnya. Jadi ghaib! Otak GHAIB! Nah, kasian tengkorakmu, udah dibikin dan dikembangin susah-susah jadi tulang yang keras kayak batok kok malah ga ada isinya. Sayang kan? Sayang sekali...

Gambar penjelasan proporsi space otak antara Tuhanmu Yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Orang Yang Mbok Seneng selayaknya kurang lebih seperti ini. Digambar dari HP memakai aplikasi Line Camera Brush


Jadi begini, untuk mengontrol kadar Fall in Love-mu yang keterlaluan saya menulis postingan ini. Keterlaluan adalah kalau sampe space otakmu isinya cuma orang yang kamu seneng tok! Mbok! Bodoh nanti kamu! Beneran! Ga cuma bodoh, tapi juga kebangeten serta songong, ya mosok sampe melebihi space buat Tuhanmu? Kebangeten plus songong jadi kurang ajar namanya... Ga mau kan jadi hamba yang kurang ajar plus bodoh plus matek ntar kamu kalo sampai dicemburui Gusti Allah. Baaah... Belom tau rasanya kamu kalo dicemburi Gusti Allah? Bahaya, nanti bisa-bisa kamu sekalian kosanmu (cuma kamarmu aja) digiles tapak tangan Allah sampe kamu rata ke bumi dan kamu ga ada bekasnya lagi dan nanti ibuk bapakmu nangis-nangis nyari kamu yang ga ada bekasnya, ga ada mayatnya, dan ga bisa dikuburin dan diziarahkuburi...  K A M U . . . . G A   A D A . . . . . B E K A S N Y A . . . . . . Kentut aja ninggalin bekas, masak kamu enggak? (Udah diiain aja, biar ga panjang) Ga mau kan?





Jadi gini caranya, kalo kamu keinget orang yang kamu seneng, ya kontak secukupnya aja, sisanya kalo kamu inget lagi sampe kebangeten nyandu, istigfarlah dan berzikirlah... Misal kamu sudah keterlaluan keingetannya, kayak lagunya Evi Tamala, "mau tidur teringat padamu... mau makan teringat padamu... mau apapun kuteringat padamu..." HAMBOOOKKK... Mau tidur itu teringat Allah, baca doa dahulu, nanti kalo jiwamu ga mbalik lagi dari tidur gimana? Melayang-layang di mimpi level 5, terjebak kayak di inception itu, tidur terus nanti kamu... Mau makan itu ya teringat Allah, dikasih rejeki kamu bisa hidup dan nebus dosa loh sama buat bayar utang-utang kamu di dunia, hayoh, kamu punya utang apa dan berapa ke siapa aja? Lunasi sana loh... Lah loh lah loh. Jadi, tiap kamu teringat pada orang yang mbok seneng padahal baru pagi tadi sudah bertukar kabar, langsung ZIKIR! SUBHANALLAH, ALHAMDULILLAH, ALLAHU AKBAR! (Yah pokoknya cara pengingatanannya sesuai agama masing-masinglah...) Syahadat sekalian, ngaji, dan kembali berkarya dan produktif. Nah loh! Lah trus saling mengingatkan ke pasanganmu biar bact to basic, to The One,  yang mungkin kadang kalian sama-sama sempat bikin gila jiwa masing-masing! Biar ga kayak cabe-cabean bon cabe.





Jadi, sekian dan sampai jumpa! Muah! Saya mau siap-siap pulang Semarang ambil sesuatu. Haha. Daaaah~ Oya, mau pulang kosan dulu, masak nasgor ngabisin bumbu, trus bisa buat sangu di kereta nanti.

Selasa, 25 Februari 2014

Paradigma Seorang Perempuan Seperempat Abad Dalam Bermasyarakat

Gambar nemu, haha!



Pada suatu sore yang tinggal beberapa menit menuju jam pulang kantor...



“Fel, install evian baby and me cobo... Pengen reti muka bayi kita kayak piye...”
“Duh. Emoh ah. Lagi males. Hahahhaa. Utekku isinya lagi banyak sampah e... Mau posting blog tiap hari, tapi hari ini ga tau mau posting apa. HAHAHAHAHAHHA.”
“Posting soal bayi?”
“Hmm... Iya ya.. Boleh.”



And then well done! Ajeng berhasil memberi saya ide menulis sore ini tentang BAYI. Apa sih bayi menurut kalian? Makhluk mungil polos kecil lucu? Kenapa ya semua orang suka sama bayi? Bahkan saya sendiri pun suka melihat bayi! Hebat. Apa karena jiwa keibuan saya mulai muncul? No no no! Bukan karena itu saya rasa, tapi karena... Bayi itu pandangannya polos, mungil, lucu, ringkih minta dilindungi terus dari peluru-peluru bertaburan, dan kalo dia tertawa itu berasa... BA-HA-GI-A ada di dalam diri. Semriwing gitu. Dunia terasa indah dan pelangi-pelangi imajiner bermunculan. Tapi kalo udah soal bersihin dan beresin eek-eek bayi ato pipis-pipisnya. Haha! Bo’, kesel! Nyuci baju saya sendiri aja males, apalagi nyuciin baju tambahan punya yang laen. Ya mbuh sih ya, kalik kalo saya jatuh cinta sama bayi, nyuciin baju bayi aja berasa bahagia? Aku durung weruh.





Bayi Dalam Paradigma Perempuan Seperempat Abad

Bayi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah anak yang belum lama lahir. Dan kebanyakan umur sekita wanita, se- ((((( K I T A ))))), udah banyak yang kepingin punya bayi. Lah? Alesannya apa? Kultur masyarakat? Jam biologis? Iya kalau udah ada calon. Lha kalo belom ya masak didesak-desak dengan pertanyaan, “kapan kawin?” CALON WAE RUNG ONO LOH, MAS MBAK MBOK BUDHE! Mbok percaya aja gitu loh sama Gusti Allah yang ngasih rejeki, lak yang penting upgrade diri terus. Trus lagi, kalo umur segini—seperempat abad—belom ada calon dibilang ga payu? Nikah itu bukan soal lomba lari. Nanti kalo udah saatnya kan ya DUER gitu, dapet hadiah. Sudah saatnya punya keluarga, lak ya DUER pengen duwe anak sisan. Kalo belom ada, ya udah ga perlu didesak. Society! Nah, ini juga muncul paradigma perempuan telat nikah itu ngamukan? Ini udah sering dibahas juga termasuk dalam buku Exparasit Lajang oleh Ayu Utami. Ngamukan-nya itu bisa berasal dorongan dari luar yaitu society, juga dalam diri sendiri seperti kurang bahagianya diri sendiri karena jarang dielus-elus—kayak, macan yang jarang dielus-elus kan ya beda efeknya sama macan yang sering dielus-elus. Yakalik cewek dibandingin mirip kayak macan?




Kamis, 20 Februari 2014

Nanti Tuhan Cemburu

Demi Tuhan Penguasa Timur dan Barat, kumohon engkau pergilah sebentar dari otakku, aku tak mau Tuhan cemburu padamu. Kau bisa habis nanti dimakan-Nya dan aku akan dilumat-Nya pula.

Jumat, 28 Juni 2013

Cerita Tentang Cerita (Tidak) Romantis


Oleh Failasufa An
“Sudah jadi. Sup macaroni kental buatanku—aku menambahkan sedikit maizena dan beberapa batang kayu manis. Kau pasti menyukainya.” Sang Lelaki menyodorkan mangkok berisi macaroni kental buatannya di atas meja, di depan Si Perempuan. “Supnya masih panas. Masih sangat perawan. Pancinya baru saja kuangkat dari kompor.”
“Tidak. Tidak. Aku tak suka makan makanan panas.” Lalu Si Perempuan mengangkat kedua tangannya ke samping lalu mengibas-ngibaskannya sebagai lambaian penolakan. “Makanan panas selalu menyengat lidah. Rasanya seperti ada ribuan tawon menyengat-nyengat dengan semangat ke lidahku. Aku juga tak suka menunggu. Menunggu itu mengesalkan! Lagipula mengapa kau taruh sup ini dalam mangkok? Kan lama dinginnya. Mengapa kau tak mengerti-mengerti juga?”
“Ya sudah, sini kutaruh piring saja.” Sang Lelaki dengan sabar menuruti apa yang diingini Si Perempuan. Memindahkan sup macaroni yang masih panas ke piring yang baru saja diambilnya dari dalam lemari dapurnya.
“Piringmu juga ceper sekali. Ini juga tak terlalu kental seperti katamu, mana bisa aku menyendoknya. Coba kalau kau sedikit saja lebih pintar. Buatlah sebuah mangkuk yang kecukupan untuk menampung sup panasmu yang tak cukup kental itu. Agar sup panasmu cepat dinginnya, dan ketika akan menyendok kuahnya pun mudah. Juga bentuknya yang cantik dan indah. Warnanya juga ceria berbunga-bunga. Itu kan akan lebih menyenangkan.”
Cerita itu berlangsung pada tahun-tahun dimana masih tak ada berbagai macam bentuk barang porselen keperluan dapur. Tak ada mangkok sup, tak ada sendok sup, tak ada juga mangkok yang ukurannya besar sekali, bentuknya juga masih sangat payah tak karuan tanpa secuil keindahan sedikitpun. Warnanya semua pucat. Tak ada warna-warna lain selain putih. Hanya putih-putih-putih-dan-putih! Dan bulat-bulat-bulat-dan-bulat!


Bertahun-tahun kemudian. Tujuh tahun tepatnya. Sang Lelaki membawakan hadiah buatannya sendiri kepada Si Perempuan. Mangkok sup yang indahnya rupawan. Molek. Cantik. Bulat—bulat yang tak sepenuhnya bulat. Lekuknya aduhai bak alunan ombak yang tenang. Warnanya memukau mata siapa saja yang melihatnya. Porselen dasarnya entah mengapa bisa berwarna pink. Dibubuhi penuh corak bunga-bunga merekah segar di sana-sini, merah, kuning, nila, ungu, jingga, orange, dan hijau. Keindahan corak bunga-bunga itu tak hanya indah dilihat, namun terasa juga ketika diraba. Timbul. Bergelombang-gelombang. Menimbulkan sensasi yang berbeda. Mungkin rasanya selevel dengan ketika engkau mulai ‘tegang’. Seperti itulah rasanya ketika kau meraba-rabanya. Mula-mula kau akan meraba-raba dengan biasa-biasa saja. Lembut dan licin, halus—kadang kasar karena tekstur pada corak bunga-bunganya, dingin—dingin yang lama-lama menghangat karena kau terus mengelus-elusnya lembut, dan diakhiri dengan sisi pinggirnya yang melandai 100% sempurna. Lalu lama-lama kau akan mampu meraba-rabanya dengan hikmat. Ia seperti mangkuk yang hidup. Mangkuk sup yang mempesona sekali. Ini adalah mangkuk sup terindah pertama di dunia. 


“Sudah jadi. Aku membuatkan ini untukmu.” Kata Sang Lelaki yang telah berhasil membuat studio porselen miliknya sendiri, kembali menyodorkan mangkok sup seperti tujuh tahun lalu—kali ini tanpa sup—kepada Si Perempuan. “Mangkuk sup pertama yang terindah di dunia."
"Ah terima kasih kawan, kau baik sekali.” Ujar Si Perempuan sambil membolak-balikkan mangkuk itu tanpa maksud apapun. “Ah, Hei, aku lupa mengabarimu. Aku akan menikah bulan depan. Aku ingin kau datang ke pernikahanku. Kau tak apa kan?"
“Tak apa. Aku akan datang dengan senang hati.”
“Bagus sekali. Aku suka mangkuk ini.” Lantas ia masyuk sendiri memain-mainkan mainan barunya, mangkuk sup pertama dan terindah di dunia yang terbuat dari porselen, mangkuk buatan Sang Lelaki.
Namun di sisi lain. Sang Lelaki memandang menerawang mengabur melanglang ke arah padang rumput yang mengering di depannya. Saut-sautan burung gereja yang beterbangan cukup tinggi pun bahkan mampu ia dengarkan dengan saksama. Lonceng gereja yang berada di desa seberang, yang biasanya dentangnya terdengar sayup-sayup, kini terdengar makin jelas di telinganya, atau mungkin hanya sebatas imajinasi saja.


~O~


Selesai. Cerita ini kuberi judul, ‘Mangkuk Sup Terindah Pertama di Dunia’. Apakah ini sudah termasuk cerita romantis menurutmu?
Oh bukan ya? Aku tau, aku tak begitu pandai mengarang cerita romantis seperti buku-buku roman yang kau suka—Chekov, Tolstoy, Jane Austen, Bronte Sisters, Ivan Turgenev, dan lain-lainnya, aku tak terlalu hafal. Kau tau, aku hanya pernah sekali saja membaca cerita roman, Romeo dan Juliet karya Shakespear. Hahaha. O iya, juga William Shakespear tentunya, salah satu penulis roman favoritmu. Aku lupa menyebutkannya. Maaf. Tapi tak apa. Setidaknya aku sudah mencoba mengarang cerita romantis untukmu, yang mungkin memang tak romantis. Aku akan senang hati juga kala engkau sudi mendengarkanku bercerita tentang cerita yang tak romantis ini. Kau akan mendengarkanku bercerita, bukan?

SELESAI

Senin, 24 Juni 2013

Jatuh Cintalah Tanpa Ke'aku'an



Aku jatuh cinta.
Pada tiga orang gadis, dan seorang wanita, juga beberapa lelaki.



Cinta itu tidak mengikat.
Hanya jatuh cinta saja.
Seorang teman SD-ku dan juga teman SMA-ku, Hana Siva namanya.
Seorang teman SMA-ku yang juga temannya teman SD-ku itu, Syani Masinta Suri namanya.
Seorang teman yang kutemukan di Jogja. Alfu Laila namanya.
Seorang wanita, tentu ibuku. Sri Darmawati namanya.



Aku tak mengharapkan apa-apa dari mereka.
Aku hanya senang jika bertemu dengannya. Senang yang malu-malu.
Aku menggunakan hatiku untuk mereka. Bukan berarti kepada yang lain aku tak menggunakan hati. Kepada mereka, aku mempersembahkan banyak.
Jatuh cintaku ada cirinya.
Seperti.



Kepada Hana, ketika SD aku rela berjalan kaki sekitar satu atau dua kilometer usai pulang sekolah. Rumah kami searah. Bedanya, Hana 2 km dari sekolah, Aku 18 km dari sekolah. Tentu setelah sampai pada ujung jalan Hana harus belok, aku lanjut naik bis, pulang ke rumah. Aku hanya senang berjalan kaki bersama Hana. Kami tak bergandengan tangan. Tak pernah.
Kepada Hana, ketika SMA setelah aku bersepeda motor ke sekolah, aku selalu mengantarkan Hana pulang masuk ke gang senggol menuju rumahnya. Tanpa bayaran. Tanpa harapan Hana akan berlaku begitu juga padaku. Paling-paling, aku hanya memintanya dengan menggodanya, “yang mbonceng, yang bayar parkir.” untuk membayar parkir jikalau kami berdua bermotor akan ke suatu tempat setelah pulang sekolah. Dan aku senang menggoda Hana. Misalnya lagi ketika menyeberangi lampu lalu lintas, dan Hana tak memakai helm. Maka aku menyuruhnya turun dari motor, "Han, nyabrango, ga ngganggo helem sih, tak enteni seberang bangjo yo, sampe  ga ketok karo pak polisi. Ngko bonceng aku meneh trus nek ono polisi meneh, mudun meneh ya. Hahahahhaha. Cepet Han! Mlayu, Han!" Dan Ia mencibir padaku. Hana menarik untuk digoda. Ekspresi sebalnya itu, lucu sekali. Aku senang melihatnya sebal.



Kepada Sinta, aku sungguh-sungguh sedih ketika dia kecelakaan motor. Jarang-jarang aku bersedih untuk seorang teman—mungkin hatiku sekeras baja, hingga sulit disusupi. Hanya sedikit orang saja yang kuperbolehkan menghuni hatiku.
Kepada Sinta, aku hadiahi dia sebuah pin mungil kecil ketika dia berulang tahun. Ini pertama kalinya aku mengado dengan hati dan dengan malu-malu. Aku pesankan dahulu pin tersebut, terpatri namanya di pin, Syani Masinta Suri. Dan aku malu-malu menyerahkannya kepadanya. Aku tak membungkusnya. Aku hanya memasukkannya ke kantong plastik bening kecil, kumasuki beberapa receh entah berapa jumlahnya, dan kukunci menggunakan seteples yang diiringi dengan permen-permen seharga ratusan rupiah mengitari bungkus plastik bening kecil tersebut. Itu juga atas saran Hana agar membungkus kado pin untuk Sinta. Dan itulah hasilnya. Dibungkus dengan plastik bening kecil yang dikeliling permen-permen murahan. Dan kuserahkan dengan malu-malu. "Nih! Kado."



Hana, Sinta, dan Aku satu sekolah ketika SMA. Saat itu, Hana belum begitu akrab dengan Sinta. Karena kami bertiga sama sekali tak pernah sekelas berbarengan. Yang ada hanyalah, Hana dan Aku sekelas di kelas 3 SMA, Hana dan Sinta sekelas di kelas 2 SMA. Sinta dan Aku sekelas di kelas 1 SMA. Namun sampai kelas 3 SMA akan lulus, Sinta dan Hana hanya saling kenal.



Kepada Alfu, aku juga pernah mengado Alfu hadiah ulang tahunnya. Sebuah buku yang kubungkus apik. Dan kuserahkan dengan malu-malu.
Kepada Alfu, aku akan senang dan berbunga-bunga jika bertemu dengannya. Aku senang tidur satu kasur dengannya. Dan mengobrol apa saja dengannya. Dia orang yang menarik menurutku. Antara orang polos, lugu, kaku, unik, dan klenik! Dia tertarik kepada sesuatu yang langka, aneh, dan magic! Dia pelanggan website primbon.com. Dia juga senang membaca tarot. Dan membaca hal-hal berbau pengetahuan sejarah yang aku kebanyakan tak tahu. Alfu senang menceritakan apa-apa yang dia ketahui yang dia baca. Dan aku senang didongei! Pas.
Kepada Alfu, aku mendatangi seminar skripsinya. Dia Fakultas Pertanian. Aku Fakultas Teknik. Kalau sampai aku rela mendatangi dan peduli kepada seminar seseorang yang tidak satu gedung denganku yang artinya aku tak paham materi seminarnya, maka artinya aku telah jatuh cinta padanya.



Begitulah cirinya.
Aku jarang mengado. Aku hanya mengado kepada seseorang yang benar-benar mampu merebut hatiku. Dan biasanya aku mengado dengan benda yang kurang terhormat.  Dan dibarengi dengan penyerahan kado yang malu-malu.



Kepada ibuku. Sri Darmawati. Aku mengado indomie, karena ibuku senang indomie. Ketika itu aku masih SMA.
Kepada ibuku. Sri Darmawati. Aku menuliskan surat cinta kepadanya yang sampai sekarang bahkan tak pernah kuserahkan kepadanya.



Kepada beberapa lelaki. Tentu mereka sahabat-sahabatku yang sangat kuhormati dan hargai. Tak perlu kusebutkan namanya, nanti pacar-pacar mereka menimpukiku. Aku tak mau.



Ungkapan kejatuhcintaanku cukup aneh ya?
Kepada mereka, aku memberi spasi antara hidupnya dan hidupku. Begitu pun mereka. Kita telah hidup sendiri-sendiri dengan kesibukan sendiri-sendiri dengan kepentingan sendiri-sendiri. Aku tak menuntut mereka untuk mencintaiku balik. Aku hanya jatuh cinta. Jatuh cintalah tanpa “keakuan”. Tanpa beban, tanpa ikatan, tanpa paksaan, tanpa harapan. Hanya jatuh cinta. Jatuh cintalah tanpa “keakuan”. Kau akan mengerti rasanya terbang. Seperti burung.





“Menjauhlah agar mampu merasakan dekat.” ~ini ngutip, lupa siapa.