Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2015

Liberty Statue is The Amusing Athena

I dreamed about New York and Liberty Statue this morning. I went to NY by boat through time machine at wee hour. When the night came, the peripheral of Liberty Island was flooded till the neck of Liberty Statue high point. So it was the golden time to smuggle my self in, together with one of my siblings/friends (I couldn't remember who she/he is). We came into it succesfully. Though, slightly strange, there was no crown on the top of Liberty Statue. Then we saw The Helmet of Liberty Statue flew above the flooding area, nearby The Liberty Statue standing point. The Liberty Statue caught it swiftly. I figured it out that she was like The Amusing Athena, one of beautiful goddesses that I adore her so much. While we were seeing that amusing goddess from a tiny boat, I was totally mesmerized. It was happened in front of my eyes.


After seeing the stunning photograph previously, We went to a statue maker in the slump area. I supposed we were under a bridge. I wanted the statue maker making me a mock of Liberty Statue for $15 (I thought he was going to sell it for $29 more or less, but he accepted the cost that I had offered him, $15). There were many mocks of Liberty Statue with European faces in his showroom. He made all the odd statues and proudly showed it off to us. I was curious a bit about who he was... Where he came from.. He had an Asian face, dark skin, kinky hair, and average high, 160 cm I supposed. His English was not fluently enough. Then I figured it out and suddenly I just knew that he was Indonesian. Hahahaha. Like us. We were brothers.



And then, I also saw a neighbor. He was a painter. Same artists remained here, under the bridge, I thought. When we came to him, he was painting on the canvas by spidols. I thought he was little stupid. He brushed all of the canvas by waxing it off for the finishing. I supposed, he was going to sell it not really expensive, I was pretty sure on it.. Because he was a slump painter. And his painting was a bit clumsy and filthy like hell. His painting was talking about a painter who was painting on the canvas by spidols, and the painter who was in the painting was squating down. What stupid you were (whereas, I also painted on that position once in a while). Anyhow, His painter painting was rather like slightly calligraphy style on every corners of his canvas-he loved to scratch it there.



At the end of my dream, I woke up. My consciousness came out a half way. I thought that today was Friday and I could go back sleep then. After a few seconds, I realized what today was, it was Wednesday. Eventually I knew that I was late to go work. But, wait a second, Friday was also a weekday, right? So it was basically the same with wednesday. How could I miss it? I had to wake up now!

Sabtu, 02 Mei 2015

A Story About Gecko


This is my old drawing, The Two Jerks and The Lady With The Red Wine.

I'm posting it because I have to tell you a story.. About a gecko in the middle of the night..

When I walked alone at the terrace of a building, I saw a gecko hung down beneath the ceiling. So, I thought that all geckos could be against the earth gravitation. That's hilarious! Then I made some hums to talk with. "Hmmm hmmm hmmm ck ck ck gecko gecko!" I said. The meaning is "Hei Gecko, you're incredibly hilarious. You're a tiny little living creature and you should be called as alien too, like other creatures from the outer space! Anyway, did you know that alien in earth were an unacceptable illegal creature? You certainly didn't know it! Meanwhile, you're an acceptable creature here! That's funny."

At the ceiling, the gecko licked his/her right-eye then gave me three seconds of glimpse. Eventually, the gecko walked into the building crawly and proudly. I guessed that the gecko was trying to look like a biawak, the bigger fatter lizard. What a bigheaded you are! That's impolite way to say goodbye! I hate you! I hate you, gecko! I hate you tremendously.

There's something wrong in this planet.

End.

Jumat, 30 Januari 2015

KOJI TADANOBU

| Oleh Failasufa Karima An-Nizhamiya
“... Kendaraan terpantau padat merayap di bilangan Ikeboukou Street ke arah Bang Bang Pink Street. Sementara Di Otonokame Street kendaraan berjalan lancar. Sekian laporan lalu lintas oleh Mister Traffic-man 007 dari Yoruba FM.” Laporan lalu lintas radio berirama staccato dengan ketukan satu per delapan birama dan dilatarbelakangi musik yang seolah-olah mengajaknya berlari cepat-cepat menggema dalam studio kerja Koji Tadanobu. Gabungan antara musik dan laporan lalu lintas berketukan pendek dan terburu-buru identik dengan suasana pengap, menghimpit, dan penuh oleh kepulan asap di tengah kota. Tadanobu benci bersentuhan dengan suasana seperti itu. Padahal Tadanobu sendiri sekarang sedang berada di dalamnya namun secara tak langsung ia tak tersentuh dari dunia luar yang morat-marit. Semua dinding ruang kerjanya dilapisi oleh peredam suara kualitas terbaik―tentu saja demi memperoleh ketenangan dalam dunia rekaannya sendiri. Tadanobu sangat bergantung pada keadaan yang berada sesuai pada tempatnya, sesuai pada koordinatnya masing-masing, dan sesuai pada jalur orbitnya. Beruntung selanjutnya Yoruba FM memutarkan lagu “Till Death Do Us Part”-nya White Lion. Memang judulnya terdengar agak melankolis dan mendayu-dayu, sangat bukan Tadanobu. Namun siapa peduli, yang penting musiknya mengalun perlahan. Semut-semut di dinding pun turut berjalan berbaris lagi membuat garis berlenggak-lenggok bak seorang penari. Sepertinya ketegangan otot-otot Tadanobu pun sudah mulai mereda.
Kertas gambar yang sudah berisi panel-panel gambar dan sketsa-sketsa pensil, ia pandangi lekat-lekat. Semenit empat puluh detik ia terdiam tak bergerak—mungkin sempat tak bernafas beberapa detik— lantas diteguknya secangkir kopi dingin di sudut kanan meja, ia letakkan lagi cangkir kopi yang tinggal ampasnya saja, kemudian mematung lagi tak lebih dari semenit. Segera setelah itu diambilnya penghapus dan digosok-gosokkan ke beberapa panel sketsa pensilnya. Lalu ia menggambar lagi di atas panel-panel yang telah menjadi kosong. Proses yang sama pun berulang kembali hingga delapan kali dalam sehari. Pemandangan tersebut sudah menjadi hal lumrah ketika Tadanobu sedang menggarap projek mingguan untuk koran minggu. Sehingga apabila dikalkulasikan, Tadanobu bisa mengulang proses seperti itu dalam seminggu, kurang lebih lima puluh enam kali, dan dalam sebulan bisa lima ratus dua puluh empat kali, dan seterusnya-dan seterusnya. Barangkali Tadanobu akan mati muda. Sesungguhnya Tadanobu menikmati proses pengulangan-pengulangan semacam itu. Dan ia tak akan begitu peduli seumpama ia mati karena hal tersebut, asalkan segalanya berjalan secara semestinya. Karena yang terpenting baginya adalah ke-te-ra-tu-ran.
“Tadanobu!” teriak pemilik warung oden pinggir jalan, “Kemarilah! Merapat ke sini. Mampir dulu, hujan.” Memang hujan tidak begitu deras. Namun hujan rintik-rintik dengan semangkuk oden adalah persekongkolan yang pantas.
Tadanobu sedikit mengangkat dagunya ke arah pemilik warung oden seraya mengangkat tangan kanannya sebagai pengganti kata, “lain waktu saja saya mampir,” seperti itu. Tadanobu melanjutkan perjalanannya.
Ia melewati puluhan tempat makan, satu kantor Japanese Red Cross Society—lucu sekali ada tempat donor darah di antara banyak tempat makan, agak mencolok dan tidak sesuai, dunia yang dipijak Tadanobu terbuncang—, dan satu toko piringan hitam sebelum sampai di Stasiun Danbashi. Jarak yang ditempuh dari studionya ke Stasiun Danbashi adalah sejauh satu setengah kilometer. Akan tetapi Tadanobu dapat memotong jalan menjadi setengahnya apabila ia masuk toko piringan hitam “Beside You” lantas keluar melalui pintu belakangnya. Dari pintu belakang Toko “Beside You” pintu itu bisa langsung tembus sampai ke jalan utama menuju Stasiun Danbashi. Untuk dapat menembus toko tersebut, Tadanobu perlu usaha ekstra—semacam tiket masuk tak tertulis. Ia rela merogoh koceknya demi mengurangi jumlah ketidakteraturan yang akan ia dapatkan apabila ia berjalan di rute normalnya ke Stasiun Danbashi. Ia menjadi rajin membeli piringan hitam sebulan sekali. Ia juga membeli turntable bekas di toko tersebut. Beruntung pula bagi Tadanobu selain karena toko itu tidak terlalu ramai pembeli juga karena penjaga toko “Beside You” adalah seorang wanita yang ramah dan menyenangkan. Wajahnya tidak cantik juga tidak jelek, tetapi cukup mengesankan dan menarik. Dagunya hampir menyatu dengan lehernya, seperti tidak ada garis batas yang jelas antara dagu dan leher, tetapi bukan tipe leher yang bertumpuk karena lemak. Kepalanya mungil. Bentuk mukanya seperti kacang kenari. Rambut hitam lurus sebahu dengan poni pendek yang jatuh secara alami. Alisnya lurus tetapi cukup tebal untuk seorang wanita. Jarak antara kedua matanya terkesan agak terlalu jauh padahal semisal diukur dengan penggaris sepertinya masih terhitung dalam jarak yang semestinya. Diluar semua ketidaksinkronan bentuk, ukuran, dan proporsi wajahnya, matanya bening dan memiliki sorot ketenangan yang tak tergoyahkan. Ia juga tergolong wanita yang berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. Ia masih tetap hangat dan informatif walaupun melayani para pengunjung yang sekedar mampir untuk menggodanya. Ia sering mengajak ngobrol para pelanggannya tak terkecuali Tadanobu. “Selamat datang Tuan Tadanobu, bagaimana hari Anda petang ini?” adalah sapaan khas si wanita kepada Tadanobu. Tadanobu tidak menjawab. Walaupun begitu, sering si wanita mengutarakan gagasannya seketika itu juga kepada Tadanobu, “Potongan rambut Anda agak sedikit berbeda. Menjadi terlihat lebih segar.” Tadanobu diam saja. Akan tetapi jika si wanita penjaga toko beruntung, Tadanobu akan membalas dengan senyum singkat saja. Tadanobu tergolong tipe orang yang bergerak berdasarkan kepentingannya belaka. Ia cuma akan menanyakan tentang piringan-piringan hitam dan aksesoris turntable saja.
Akan tetapi kali ini Tadanobu tak melihat sosok si wanita tersebut manakala menembus Toko “Beside You”. Secara tidak sadar, Tadanobu sekonyong-konyong memiringkan kepalanya ke kiri sedikit. Suasana menjadi sunyi seketika tanpa racauan berbagai macam bunyi yang bercampur aduk. Tak ada suara yang masuk ke gendang telinganya sekitar dua puluh tiga detik. Posisi kepalanya masih tetap miring sampai gendang telinganya dapat menangkap gelombang suara lagi. Aneh. Harusnya saat ini juga si wanita masih dalam jadwal shift menjaga toko. Tidak biasanya. Mungkin sakit, pikirnya. Atau ada keperluan, pikirnya lagi. Tanpa bertanya tentang si wanita murah senyum kepada penjaga toko penggantinya, Tadanobu melanjutkan  menembus Toko “Beside You” sambil mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah mengijinkannya lewat. Si penjaga pengganti membalas senyuman Tadanobu dengan dengusan pendek.

Selasa, 23 September 2014

Failasufa Berbudi Baik Sekali

Calon Oil Painting sayah! Judulnya: The Collector
| Failasufa Karima A.N.
Pada suatu masa sepasang sejoli sedang dipadu bermesra di pinggir sawah sore hari. Terkadang angin sepoi-sepoi mengganggu mereka sedikit.
Herman dan Kancutnya
Tatkala seekor burung prenjak membuang tai di atas bahu si Lelaki, percakapan kedua sejoli tersebut telah pecah!
“Kamu itu ruwet! Mbok sekali-sekali simpel kayak cawat! Nyaman dan mudah dipakai. Andaikan kotor tinggal cuci!” sentak si Lelaki sebal seraya memagut-magutkan kepalanya ke telapak tangannya seperti burung dara mencocok biji jagung. Maka sang wanita jengkel pula lantas menjawab, “Iya. Seumpama bolong juga bisa diganti! Saya tidak mau sampean ada kesempatan untuk mengganti saya. Oleh karena itu, saya tidak mau disejajarkan dengan kancut sampean!”
“Halah. Terlalu serius kamu itu menanggapi omongan saya. Saya ini seorang gentleman, ambil satu tidak akan ganti dengan yang lain.” Si Lekaki mengelak.
“Bohong. Wong kancut sampean bukan GT Man!” Sang wanita menangkis elakan.
“Iya. Memang bukan. Cawat saya Rider.” Akhirnya si Lelaki pun mengaku.
“Rider itu apanya Kamen Rider?” Dan pertandingan ping-pong adu mulut kian tak karuan.
“Ga eruh dek! Sudah, kamu ganti nama sajalah! Biar saya mudah melafalkan namamu. Kalau mudah melafalkan namamu, pasti saya lekas mengawinimu.” Si lelaki melambungkan umpan.
“Mbahmu mas!” Lantas Si lelaki mendapatkan smash tajam dari Sang Wanita.
Lantas si lelaki megap-megap, “Sebentar toh... belum apa-apa sudah ngamuk. Saya belum selesai mengutarakan perihal sangat serius mengenai penggantian namamu,” jelas si Lelaki perlahan dan menjaga intonasi tetap kalem. “Penggantian ini akan mencuatkan keuntungan-keuntungan yang mungkin tidak kamu sadari. Satu, sudah saya katakan sebelumnya bahwa saya akan mudah melafalkan namamu andaikata namamu lebih simpel lantas kita cepat kawin. Kamu tahu toh aturan ijab qabul yang mengatakan bahwa sang mempelai pria, yaitu saya sendiri, yang dibebani hafalan nama kalian, sang mempelai wanita dan bapak mempelai wanita, menjadikan ijab qabul merupakan tugas berat!” Ditegapkannya badan kekarnya dan ia tatap wanita yang matanya sudah nampak seperti bola bekel siap memantul-mantul. Lanjutnya, “Dua, agar kamu menjadi lebih simpel seketika itu juga dengan namamu telah diubah menjadi lebih simpel dan tidak seruwet sekarang ini. Tiga... belum terpikirakan keuntungan ketiga dan ke empat dan selanjutnya.”
“Salah! Tiga... kamu itu bisu! Jadi tidak akan bisa mengucapkan nama lengkap saya semudah apapun bentuk nama itu. Empat... saya belum ingin kawin, serius! Dan sampean, mas Herman Tercinta, sudah tau itu dari dulu!” Sang wanita kembali menyemash tajam!

Jumat, 18 Juli 2014

MUSEUM MESUM


 | Failasufa Karima An-Nizhamiya


Ia berdiri di depan cermin kamarnya, sedang sibuk bersiul seraya menata rambut belah tengahnya dengan jari-jari tangan kanannya. Ke kanan, kiri, lalu belakang dan selesai. Sepertinya hampir semua lelaki selalu berbakat merapikan rambut tanpa sisir. Cuaca siang hari ini cerah sekaligus terik menyengat sampai-sampai nyaris tak ada orang yang keluar tanpa topi ataupun payung. Ia masih menatap lekat dirinya dalam cermin. Kemeja biru lengan pendeknya cepat-cepat ia tanggalkan hingga tersisa kaos putih bergambar ayam dan bertuliskan “TOTTENHAM HOTSPUR” di badannya. Sekonyong-konyong ia berteriak, “bravo!” sambil meninjukan kepalan tangan kanannya ke atas, menggantung di udara. Aroma parfum perpaduan kayu guaiac dan daun mint bercampur keringat terhambur memenuhi ruangan. Ia berteriak lagi, “bravo!” dan lagi, “bravo!” dua kali lebih keras. Sudah sejak tiga hari lalu Herman merencanakan agendanya hari ini. Minggu terakhir di bulan April, Ia akan mengunjungi Museum Mesum untuk pertama kalinya. Peluh mengaliri lekuk punggungnya yang liat.
Tiga hari lalu, yang masih sama panasnya dengan hari ini, Herman khusyuk memandangi sekeliling kamarnya. Kamarnya selalu rapi―memang harus selalu rapi untuk menghindari kerepotan atas kemarahan Bibi Jessie. Dua sisi dindingnya penuh lukisan-lukisan impressionis. Satu sisinya adalah hasil reproduksi lukisan Van Gogh dengan The Starry Night lah yang menjadi primadona dekorasi kamarnya. Sedangkan satu sisi lainnya adalah hasil reproduksi lukisan Monet. Pemuda bermata sayu tetapi memacarkan kebengalan tak tertandingi itu senang mereproduksi lukisan karya Van Gogh dan Monet dengan cara cacat dan prematur. Menurutnya, melukis ulang karya seniman besar dengan hasil tak terlalu perfek akan jauh telihat lebih manusiawi―sejujurnya, ia hanya mudah bosan dan tak telaten dengan hal lama yang tak kunjung selesai. Pada saat itulah imajinasinya sekarat. Ia tak bisa bermasturbasi lancar dengan cara-cara lama dan kuno. Potret wajah Marilyn Monroe dan beberapa poster setengah telanjang Sora Aoi juga Asia Carrera di balik bingkai lukisan juga sudah tak mampu memberinya fantasi. Video pun tampak seperti gambar bergerak belaka. Kebosanan kronis telah berdiam lama di dalam bola matanya. Padahal ia baru saja tinggal di rumah Bibie Jessie selama lima bulan. Lelaki muda yang sudah bertahun-tahun mampu bertahan dengan rambut belah tengah yang sudah nampak kuno itu tahu bahwa semuanya harus diperbaharui dengan cara yang akan segera ia temukan di Museum Mesum. Cara yang sama sekali baru dan pasti perlente! Ia juga tahu, pada akhirnya semua akan kembali sempurna. Sungguh harapan indah yang menjanjikan. Mungkin ia akan membeli sesuatu di sana.
Kembali lagi ke hari setelah tiga hari lalu, “Herman, Herman, bibi berhasil! Baru saja ada seekor tikus masuk perangkapku. Akhirnya!” Terdengar teriakan Bibi Jesssie yang seperti suara orang  tercekik dari arah luar pintu kamar. Kemudian hening sejenak, “Apakah Heru sedang bersamamu?” lanjut Bibi Jessie dengan suaranya yang kembali elegan dan terkontrol. Herman membalas pendek, iyaaa, tak kalah keras dengan suara lengking bibinya. “Bawa saja ia ke bawah. Ada santapan lezat untuknya. Aku akan senang melihatnya mengejar-ngejar tikus lalu memakannya,” ujar Bibi Jessie.
“Aku tak yakin Tuna masih doyan dengan tikus, Bibi Jessie-ku sayang...” Herman merasa aneh jika harus memanggil kucing bibinya dengan nama Heru, terasa seperti mereka berdua adalah kakak dan adik dengan nama yang sama-sama kuno. Maka ia mengganti nama Heru menjadi Tuna, “tapi tak apalah, akan kubawa ia ke bawah.” Lantas Herman mengangkat paksa Heru yang sedari tadi asyik bermain lepas tangkap dengan cicak di lantai. Dibopongnya Heru di ketiak kirinya, dibaliknya semua lukisan pada tempatnya hingga semua poster-poster itu kembali aman tersembunyi, lalu dikuncinya pintu kamar. Dengan kaus putih bertuliskan TOTTENHAM HOTSPUR, ia telah siap bepergian mengunjungi Museum Mesum. Aku pasti akan membeli banyak mainan di sana, Herman membatin berapi-api.
Sesampainya di Pasar Minggu, Herman langsung disambut oleh keriyuhan antara pedagang dan pembeli yang sedang tawar menawar, bunyi berisik klakson angkutan dan kendaraan pribadi yang bersaut-sautan, ditambah dengan meriahnya musik dangdut oplosan yang sedang marak-maraknya musim ini,
Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Alunan lagu dangdut remix keong racun dalam berbagai versi menggema dimana-mana yang berasal dari penjual kaset bajakan beberapa pedagang asongan pinggir trotoar. Pasar Buah dan Sayur yang dulunya hanya beraktivitas pada hari Minggu saja berlokasi enam ratus meter sebelum gerbang pintu depan Museum Mesum. Bermula dari titik tersebut Herman sudah mulai kegerahan lagi. Perjalanan dari rumah bibinya ke Museum Mesum terasa lebih lama daripada waktu sebenarnya. PANAS! Alih-alih pergi menepi mencari tempat berlindung dari terik matahari, lelaki muda penggemar club Tottenham Hotspur itu malah melepas kaosnya di bawah panas matahari langsung. Setelah ia mengelap keringat menggunakan  kaosnya lantas menatap ke depan, tiba-tiba Herman terdiam dan menghentikan langkahnya. Seorang wanita berumur sekitar dua puluh tujuh tahunan juga sedang melepas kaosnya! Lima meter saja di depan Herman! Kaos merah yang tadinya melekat pada tubuh liat wanita itu dilepasnya sendiri lalu wanita itu menggeliat-geliat seperti cacing yang bisa berdiri tegak di tanah! Edan! Pemandangan apa ini! Herman berdiri tegak tak bergerak, rona merah menyembul di wajahnya, kedua telapak tangannya pun basah, matanya bagai selongsong peluru yang siap menembak namun ternyata kokang pistolnya malah macet. Herman melongo saja hampir satu menit lamanya―mungkin satu menit terlama sepanjang hidupnya. Wanita gila!

Senin, 03 Februari 2014

Motel Maggie

Oleh Failasufa Karima An-Nizhamiya


Illustrasi mbuat sendiri khusus Motel Maggie

“Tidakkah kau merasakan malam ini terasa sedikit lebih dingin dari malam-malam biasanya?”
“Kupikir juga begitu, Dadda...”
“Sebaiknya kita hangatkan badan di dalam rumah. Angin malam di luar jahat sekali.” Sang Ayah berhenti merayap lantas menoleh ke belakang, ke arah lawan bicaranya, mengamati.
“Kupikir juga begitu, Dadda...”
“Ekormu putus lagi?” tanya Sang Ayah datar dan wajar.
Kadal gurun yang berukuran 2 inchi merayapi perlahan batu besar coklat kemerahan lalu diikuti oleh kadal yang lebih kecil. Seberkas cahaya lemah dari lampu penerangan jalan menyusup di antara semak-semak yang mereka lewati. Mereka hendak menuju motel lima puluh meter di depan mereka sembari menyuruk lincah, bersembunyi dari para pemangsa malam. Di antara jarak itu pula terdengar suara mesin truk Chevrolet tua dihidupkan, kerikil berloncatan ke belakang ban, suara mesin makin meraung kemudian melaju cepat meninggalkan halaman parkir berpasir ke arah Gila Street. Begitu pun dari dalam motel, sayup-sayup suara renyah penyanyi lawas Kinky Friedman dengan lagu country-nya, The Ballad Of Charles Whitman, bersenandung lewat radio,
There was a rumor about tumor
Nestled at the base of his brain.
He was sitting up there with his .36 Magnum
Laughing wildly as he bagged ‘em.
Tombol volume radio dikecilkan, lalu suara renyah Kinky Friedman menghilang perlahan, digantikan oleh suara tinggi melengking.
“Beberapa lagu country kadang memang terasa janggal. Apakah kau tidak merasa aneh mendengar lagu yang baru saja diputar di radio tadi, Mattie?”
Sunyi sesaat. Disusul bunyi ujung pulpen diketuk-ketukkan di atas papan kayu.
“Macet lagi ah! Pulpen ini bisa kau tambahkan ke dalam daftar belanjaan besok, Mattie. Kau harus membeli pulpen berkualitas. Tadi aku ngomong sampai mana?”
“Sampai pulpen berkualitas,” jawab suara lain cukup tegas.
“Bukan itu. Sebelumnya lagi. Oh, ya, lagu country yang janggal! Jadi, lirik lagu tadi, lagu yang dinyanyikan Kinky Friedman itu, adalah sebuah ironi. Sedangkan musiknya berjingkat-jingkat ceria seperti anak kecil yang baru saja mendapat permen. Dua hal yang berbeda disulamnya jadi satu, tidak konsisten! Harusnya, Iya-iya, tidak-tidak! Lagu country memang aneh.” Maggie mengomentari tanpa ragu.
Pintu samping bangunan utama motel sedikit terbuka dan angin sedang tidak berhembus. Dua kadal gurun berbintik merah tadi langsung merayap cepat melintasi celah daun pintu. Kadal gurun yang lebih besar melesat terlebih dahulu kemudian diikuti oleh kadal gurun yang lebih kecil. Mereka berhasil sampai ke dalam motel dengan selamat tanpa perlu terjepit daun pintu―karena kawan mereka telah banyak yang mengukir sejarah, mati terjepit daun pintu atau pun jendela. Lagu Country Kinky Friedman masih mengalun sayup, tetapi tetap terdengar keras oleh kedua kadal itu. Mereka menghangatkan diri di antara kaki meja dekat pintu, kaki Maggie Redwine si pemilik motel, dan kaki Matthew Wilson―assistennya yang sekaligus merangkap sebagai bellboy.
“Mengapa radio itu memutarkan lagu sedih malam ini, Mattie?” Maggie menghentikan liukan-liukan pulpen di atas buku administrasi  lalu menyentakkan matanya seketika ke arah assistennya, “Tak adakah lagu yang lebih pantas? Lagu dengan musik gembira lain dan lirik yang lebih menyenangkan? Pada malam menjelang tahun baru, sepatutnya lagu-lagu penuh kegembiraanlah yang diputar. Harusnya lagu riang!” Maggie akhirnya mematikan radio sebelum kemarahannya tumpah.
“Orang yang sedang berduka hatinya biasanya lebih mendengarkan lirik, orang yang sedang gembira hatinya biasanya lebih mendengarkan musik,” Matthew menjawab pelan, melipat koran yang belum sempat ia baca kemarin lantas beranjak dari lantai duduknya. Ia merapikan meja dari tumpukan koran dan majalah berserakan. Kerapian dan kesimetrisan adalah hal yang disenanginya.
“Jangan kau rapikan buku-buku di mejaku, cukup kau rapikan meja ruang tunggu saja. Aku tak suka barang-barangku dipindah-pindah,” sentak Maggie cepat-cepat, “Aku juga tidak sedang berduka,” tambahnya pelan.
“Dadda, apakah kita aman di sini? Sepertinya wanita itu buas sekali,” tanya kadal bertotol merah kecil kepada ayahnya seraya berusaha mengibas-ngibaskan pangkal ekornya.
Pemuda berkumis tipis itu tiba-tiba teringat, “Ada dua kadal gurun bertotol merah, di bawah meja,” dan ia mengangkat kedua alisnya pada Maggie, “Mau kurapikan sekalian?” tanya Matthew.

Kadal yang lebih tua tak menjawab. Ia sedang sibuk mencermati Maggie dalam-dalam. Kulit wajah Maggie tampak berbintik-bintik di sekitar tonjolan tulang pipinya. Rambutnya yang lebat lurus dan tergerai sebahu menguarkan bau apak. Beberapa kali ia menyibakkan poninya yang jatuh ke dahi tanpa hasil. Dan matanya memancarkan banyak ketidakberdayaan pada dunianya yang sempit.
“Tak usah. Biarkan saja,” sahut Maggie datar. Raut wajah Maggie sekilas tampak sepuluh tahun lebih tua dari usianya seharusnya. Ia juga masih mengenakan kemeja longgar kotak-kotak besar yang kemarin dipakainya.
Maggie melihat jam tangannya, layar jam digitalnya menampakkan angka 09:33 P.M.
“Pada pukul sembilan lewat tiga puluh tiga menit malam setahun lalu, apa yang sedang kau lakukan, Mattie?” tanya Maggie tanpa menatap Matthew. Ia terus menunduk sesekali melirik jam tangannya sembari meliyuk-liyukkan ujung pulpennya lagi. Di halaman terakhir buku administrasinya ada gambar babi kecil berhidung besar bermata sayu dan berponi melintir ke bawah, di sampingnya ia tambahkan gambar awan dengan banyak garis melingkar-lingkar sembarangan.
“Sepertinya aku masih bekerja sebagai petugas lift di Raddison Hotel, akhir tahun kemarin. Aku tidak mengambil cuti, sepertinya.” Matthew menyangsikan jawabannya sendiri.
“Bagaimana dengan tahun lalunya lagi? Dua tahun sebelum ini.”
“Aku lupa, mungkin juga masih belum mendapatkan cuti.”
Angin di luar bertambah kencang. Ranting semak-semak di luar motel mengetuk-ngetuk kaca daun jendela beberapa kali dan membuat tarian bayang-bayang hitam menakutkan. Anak kadal gurun tersebut bergerak-gerak gelisah di belakang ayahnya sambil mendecak-decakkan lidahnya. Sang ayah membalas dengan kibasan ekor ke kanan dan ke kiri, sedangkan kepalanya tetap lurus ke depan memperhatikan dua sosok manusia di hadapannya, Maggie dan Matthew. Si kadal Dadda berasumsi bahwa jika ia sering menonton para manusia bertingkah, ia akan mampu mengambil banyak pelajaran hidup―setidaknya, minimal untuk bertahan hidup agar ia dan kawanannya tidak mati terinjak oleh mereka.
Mattew berkata lagi, “Boleh kuhidupkan radionya lagi? Akan kupilihkan lagu gembira dengan lirik yang juga gembira untukmu. Malam ini, malammu!” diputar-putarnya tuning radio, berhenti beberapa saat, ia dengarkan lagunya sebentar, lalu ia kembali memutar turning radio hingga ia menemukan lagu ini,
Somewhere beyond the sea,
Somewhere waiting for me,
My lover stand on golden sands,
And watches the ships that go sailing.
Beyond The Sea―Robbie Williams. Volumenya ia keraskan. Lagu yang gembira, lirik yang gembira, dan timbre suara yang ringan. Maggie pasti menyukainya!
“Silakan.” Matthew yang berbadan tinggi jenjang membungkukkan badan sedikit kepada Maggie lalu berbalik pergi ke ruang janitor.
“Mattie, bagaimana jika kita menutup motel untuk malam ini saja? Kau kuberi cuti libur akhir tahun dan tetap akan kubayar uang lembur akhir tahun.” Maggie setengah berteriak kepada Matthew yang sedang mengepel lorong samping antara pantri dan ruang makan. Lagu Beyond The Sea masih mengalun pelan. Alis Matthew yang tipis tampak dikerutkan, ia hanya menoleh dengan tatapan menyelidik.
“Ayolah, temani aku sekali ini saja merayakan malam pergantian tahun. Kau mau kan, Mattie?” lanjut Maggie.
“Bagaimana dengan para penyewa kamar saat mereka kembali lalu meninggalkan motel, dan tak ada orang di sini. Kau sudah memikirkannya?”
Pertanyaan itu dijawab Maggie spontan berdasarkan perkiraan-perkiraan kasar dari pegalaman-pengalamannya tahun lalu. Semua penyewa kamar rata-rata tak ada yang tak meninggalkan kamarnya selama malam pergantian tahun berlangsung, termasuk malam ini. Jam kembali mereka ke motel paling awal adalah pukul empat dini hari.  Mereka langsung menuju kamar masing-masing tanpa memesan menu makanan atau minuman setelahnya. Kunci kamar motel dibawa oleh masing-masing penyewa kamar. Jadi, Maggie dan Matthew tak harus kembali sebelum pukul empat pagi. Mereka hanya perlu kembali sebelum jam sarapan tiba, tentunya untuk menyiapkan menu sarapan―sekadar berjaga-jaga manakala ada tamu yang mampir untuk sarapan belaka.
Maggie dan Matthew akan meninggalkan motel dalam keadaan lampu dan radio masih menyala untuk memberi kesan bahwa di dalamnya masih ada orang―siasat penting untuk mengelabui para pencuri. Sedangkan di pintu masuk halaman parkir, diberi plang dengan tulisan “KAMAR PENUH” walau masih ada beberapa kamar yang belum terisi.
“Baiklah, Miss Redwine,” sahut Matthew, “Kau ingin aku manemanimu kemana?”
“Aku pun tak tahu akan pergi kemana, Matt. Kupikir... “ Maggie berdiam sebentar, “Kau ada ide, Mattie?”
Gelengan kepala Mattew terasa terlalu mantap seraya mengerucutkan bibirnya. Matthew tidak tahu apa yang harus dijawabnya pada Maggie. Kesunyian mampir sejenak dalam benaknya.  Tiba-tiba kepalanya dipenuhi oleh ingatan-ingatan masa lalu. Terasa terlalu lama ia ditinggalkan oleh hingar-bingar kehidupan. Bahkan malam natal pun ia lewatkan dalam keheningan. Ia juga lupa bagaimana cara merayakan malam tahun baru. Yang masih ia ingat, dulu kedua orang tuanya bekerja di pub, begitu juga saat momen malam pergantian tahun.
“Pub?” tanya Mattew ragu. Maggie menolak. Alasanya karena terlalu banyak bau busuk di sana. Bau muntahan. Assitennya itu menawarkan lagi beberapa tempat yang sama sekali tidak menarik, “Riverside? Kampus Phoenix? Atau rumah kakek-nenekmu?” Maggie menolak lagi. Maggie semakin mual dan merasa segala-galanya keliru.
“Dadda, kita akan menonton mereka berdua dari bawah meja ini, sampai kapan?” tanya kadal gurun kecil.
“Kurasa pertunjukan ini sudah mulai membosankan,” ujar Dadda pada dirinya sendiri.
“Dadda...” seru kadal kecil pada ayahnya karena ia tak diacuhkan.
Terdengar bunyi ban berdecit kencang diikuti dengan pintu mobil digebrakkan dari arah halaman parkir motel. Langkah-langkah berat datang bersamaan dengan bunyi gilasan antara roda-roda plastik dan kerikil jalanan. Seorang lelaki kecil ramping bertopi Yankees dengan koper berukuran sedang di sisi kanannya muncul di depan pintu. Lantas ia berkata mengenai niatnya untuk menyewa kamar beberapa hari. Orang ini agak rewel rupanya. Ia meminta sarapan diantar setiap pagi ke kamarnya. Ia juga akan memakai jasa binatu setiap harinya. Dan ia menginginkan dua piring spageti dan segelas bir saat ini juga. Maggie dan Matthew saling bertatapan.
“Nak, kau mau kuajak jalan-jalan keluar malam ini? Dadda akan  memperlihatkan kepadamu sesuatu.” Ajak kadal gurun bertotol merah yang lebih besar.
“Di luar dingin sekali Dadda, angin bertiup begitu kencang. Bahkan pemangsa malam pun sepertinya tak beringsut sama sekali dari tempatnya di malam yang dingin ini.”
“Tak akan terlalu dingin. Kau ikuti saja Dadda di belakang. Kita akan menikmati malam pergantian tahun di luar sana.”
Dadda bergerak cepat menyelinap keluar ruang penerima tamu menuju halaman parkir. Kadal gurun kecil megikutinya sigap. Kedua kadal gurun bertotol merah merayapi ban depan bawah kemudi Ford Sierra tua milik lelaki bertopi Yangkees tadi. Lelaki itu akan mampir sebentar ke kota lalu kembali lagi ke motel―pastinya tidak untuk suatu hal yang bersangkutan dengan perayaan malam pergantian tahun. Mereka akan cukup hangat dengan memperoleh tumpangan sampai di kota. Dalam perjalanan menuju kota, Dadda menyenandungkan lagu Beyond The Sea dengan cemerlang dalam frekuensi suara yang tak mampu didengar oleh manusia. Dan kadal gurun kecil mengikutinya dengan terbata-bata.

-o-

Jauh beberapa mil di belakang mobil pria bertopi Yankees tadi, “Kau mau kuambilkan brendi di gudang belakang, Maggie?” tanya Matthew kepada Maggie.

SELESAI