Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

B O L O N G




Kosong dalam bolong yang melompong.
Gigi berasa ompong tak mampu menolong.
Omong kosong.
Sesungguhnya kosong ini serupa dengan anjing melolong.
Jadi, aku ini macam anjing melolong?
Melolong minta ditolong.
Tolong, tolonglah hambaMu yang kosong.
Kosong selalu mencariMu ke langit yang bolong.


Selagi kutengadahkan wajah ke langitMu,
kutemukan langit itu bolong, bolong hingga menuju rumahMu.
Sebentuk lubang di langitMu.
Kata para orang pintar, itu Worm Hole.
Apakah aku harus terbang ke langit, mengantar surat untukMu,
lantas kutitipkan surat di bolongnya langit hingga sampai padaMu?
Itu agar Engkau menolongku.
Aku butuh ditolong.
Akan kutulis surat minta disokong.
Sokong jiwaku yang ompong.
Menuju langitMu yang bolong.


Rasanya lama kutak singgah dalam pangkuanMu.
Lama kutak merayuMu.
Engkau pasti suka dibujuk, dicumbu, dan dirayu.
Nanti pasti kutulis surat rayuan pula untukMu.


Tuhan, dimana alamat rumahMu?
Ba'da magrib nanti aku akan naik ke langitMu yang bolong,
kukirim surat ini padaMu.
Ladalah, aku malah ngeblog,
gobloknya aku.


Harusnya kuemail saja padaMu.
Tuhan, mana alamat emailMu?
Jadi aku tak perlu naik ke langitMu yang bolong.
Capek. Aku mau tidur. Mungkin sampai ngorok.


Dan Tuhan menggaplok ndasku.
Sakit yo...

Sabtu, 12 Oktober 2013

Dua Mata Sayu














Hai dua mata sayu yang saling beradu
di atas perahu yang mendayu-dayu...


Kami di sini...
Dua mata sayu yang saling asik bercumbu di kiri bahumu,
timur perahumu,
Lihatlat sini,
Hai dua mata sayu yang saling beradu...


AWAS!
Perahumu oleng,
Torpedo menyerang,
Serdadu menyerbu!

Minggu, 22 September 2013

Nyonya Kesepian Si Mata Nyalang


Dengarkanlah... Cerita tentang Nyonya Kesepian Si Mata Nyalang









"Matamu, mata nyalang!
Sungguhpun Nyonya Kesepian Si Mata Nyalang Tanpa Kekang."
"Wahai Tuan Kesepian Tanpa Kutang.
Aku di sini. Aku sudah tak nyalang lagi. Hanya mampu melintang dari ujung depan hingga belakang hitam lekam bak pecalang."
"Pecalang-pecalang pembawa parang yang akan berperang? Oh, mereka datang!
Bulan bengkak pun kalah dengan nyalang matamu. Tak usah gusar pada para pecalang berseragam perang pembawa parang.
Matamu, mata nyalang!
Kanan kiri depan belakang."




Arang jaran kepang, menyalak-nyalak kencang menang.
"Pecalang-pecalang datang berparang mau perang!"
"Pandanglah mataku,
Hai Nyonya Kesepian Si Mata Nyalang!"
"Tidak!
Pecalang-pecalang datang berparang mau perang!
Aku takut. Mereka bawa pasukan. Lihat! Mereka sudah menggedor-gedor pintu!"
"Tenang. Pecalang akan mati! Kita menang!
Lalu setelah itu, mari tuang arak, hai,
Nyonya Kesepian Si Mata nyalang!"
"Tidak! Mereka datang! Pecalang berparang mau perang!"
"Kau suruh saja kucing-kucing berkaki congklang di atas ranjang, keluar menyerang."
"Tidak! Mereka pasti akan roboh."
"Wahai Nyonya Kesepian Si Mata Nyalang. Kucing-kucingmu hebat. Pecalang-pecalang pembawa parang yang mau perang, akan bernasib malang. Sungguh."
"Tidak. Kucing-kucing berkaki congklang itu akan roboh.
Tidak! Mataku sudah tak nyalang lagi. Mataku sudah tenang. Tak mempan."
"Goblok! Matamu masih nyalang! Aku sudah datang dan MATAMU MASIH NYALANG! Sudah, segera suruh kucing-kucing congklang di atas ranjang memburu pecalang!"
"Tidak! Aku bilang tidak. Kasihan kucing-kucing congklang di atas ranjang!"
"PERSETAN. MATI KAU! Aku butuh matamu, mata nyalang. Aku tak ingin mati diserang pecalang."




Kucing-kucing berkaki congklang di atas ranjang mengeong-ngeong, kencang.
Terdengar jerit lengking suara perempuan, Nyonya Kesepian Si Mata Nyalang.
Nyonya Kesepian Si Mata Nyalang kini berganti Tuan Kesepian Si Mata Nyalang.
Pecalang-pecalang pembawa parang yang mau perang masuk menyerang.
Kucing-kucing berkaki congklang balik menyerang.
Mari, tuang arak.