Sabtu, 29 Oktober 2011

Ketika Lajang Berpikir Tentang, Menikah?

Haa? Itu istrinya 2, iya? Apa-apaan ini.

Random.
Agak merindu merangkai kata. Plus kerandoman otak yang hampir parah! Jika tak dituangkan ke dalam hobi, dan terlalu taat pada aturan, kantor-kosan-portofolio-tidur-bonus weekend sehari, akan menambah level ketidakseimbangan jiwa saya meningkat. Sesuatu yang kaku, baku, dan lurus, membuat sayayang kuno dan agak sedikit normal, yang artinya tidak sepenuhnya normalmati kutu. Hidup bagai zombie. Tau zombie kan? Raga ada (zombie busuk, saya kagak. Haha), jiwa mati. Sesuatu yang nyleneh akan sangat membahagiakan psikologis saya, eh kami, para manusia sedikit normal. Eh kami ya? Apa saya saja? Ah tidak, sepertinya manusia seperti saya cukup banyak. Bisa saya sebutkan satu persatu teman sedikit normal itu, ada Amanatia JundaAlfu Laila, Ni'am rouf Azzaki (Bapak palsu saya), Jenni mahendra manulat, Pradipta Surya Dinandra (yang helemnya sama kayak helem sayabeli helem karena naksir helemnya Andradan bahkan helem saya namanya Andra.) Atau kalian termasuk? Semoga iya! :)  



Karena topik kali ini dibuka dengan keanehan yang terkekang, menjadikan si penulis kurang lahan untuk ekspresif. Maka kali ini saya, penulis, akan membahas tentang menikah. Lho? Kok tiba-tiba membahas menikah? Iya dongs. Kan menikah itu sedang marak diumuran saya ini. Saya sudah 23 lho... Atau masih 23? Ah mana saja bisa. Dikala menginjak umur 23 maka seorang perempuan kebanyakan sudah memikirkan tentang menikah─memikirkan, bukan ingin menikah diumur 23. Beda. Memikirkan ya memikirkan. Bukan melakukan. Hanya memikirkan saja. Seperti memikirkan mimpi─. *Eh, ini saya nulis dikala sedang ada deadline. Tapi karena bumpet ya, saya nulis saja lah. Karena bumpet itu kalau dipaksa, tetep aja ga jalan-jalan itu gawean. Jadi perlu waktu untuk rileks. Rileks saya, ya nulis. Hahaha. Eaaa... Kena interupsi random dari si penulis*. Mereka memikirkan menikah, karena lingkungan mereka yang menuntut. Bagaimana tidak, saya barusan di tag note tentang menikah, nikmatnya bercinta dalam naungan payung surat nikah dari KUA yang sejalan dengan kegiatan menuju pada Tuhan, Allah! "Tahukah kalian bahwa seks itu juga cara menuju Tuhan. Jangan heran jika ajaran-ajaran dari agama/kepercayaan kuno hampir semua memiliki simbol-simbol seksualitas." by M.N. >>> Guru keren panutan saya. Bacalah tulisannya, maka kalian akan terberkahi dan hidup dalam damai. *Lebai*
Lalu banyak pula ulasan mengenai menikah dan 'The Big Day'-nya. Plus teman-teman sebaya sudah banyak yang menaburkan benih bahwa mereka akan segera menikah dan berbagi undangan pernikahan. Sungguh bahagia saya mendengarnya, namun membuat saya dan para wanita lain yang mengalami kejadia seperti saya pun berpikir. Budaya di Indonesia, kebanyakan menikah antara umur 23 (setelah lulus kuliah), 25, dan 27. Benar? Sepertinya iya. Mana buktinya? Haha. Feeling aja, pengalaman melihat acara gosip artis dan dateng ke kondangan-kondangan pernikahan. Plus teman-teman wanita saya sering curcol tentang pingin segera dilamar, nikah, dan pesta pernikahan dimana duid itu paling enak kalau diirit-irit buat acara niakahan, lebih afdol kalo disimpan buat besok setelah nikahnya.



Karena terlalu banyak omongan tentang ITU, maka saya pun berpikir tentang ITU pula. Sebenarnya bukan karena kejadian-kejadian itu sih, tp sudah lumayan lama saya berpikir, The Big Day saya besok mau dibuat seperti apa ya... *Maklum wanita. Ihik.* Dan berpikir enak ga enaknya nikah. Dimana kita yang single sudah terbiasa sendiri, waktu dan space kita setelah nikah akan berubah, menjadi waktu dan space bersama keluarga. Hilang sudah waktu untuk sendiri. Tentu itu sangat menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Kesendirian terenggut. Privasi melebar. Dan, apakah saya tetap bisa menjadi Fela sehari-hari? Oh Tuhan, anak saya seperti apa nanti kalau punya simbok kayak saya? Maksudnya, saya itu perempuan tapi engga feminin. Maaakk... 
Menikah, jadi tidak bisa bebas berteman sana sini─kalau mau konsultasi kerjaan, jadi cuma sama suami aja? nah padahal suami itu mungkin ga gitu ngerti tentang dunia yang saya geluti, misal. Kan pertemanan saya pun dibatasi, apa iya? Saya kebayangnya sih gitu. dan pergi main sana sini, karena kita (istri) punya suami+anak yang kudu diurus. Beeeh... Repotnya. Tambah lagi bisa kramas lebih dari dua hari sekali dan tidak kenal waktu. Tengah hari pun, bisa kramas. Gila ga tuh ribetnya? jam 12.00 mandi? Tambah lagi, ga kebayang bahasa bayi itu kayak gimana? Yang artinya kami para calon ibu kudu mengerti bahasa bayi dari mimik muka mereka, melototin muka bayi yang lagi nangis antara lagi pingin beol atau pingin makan? Nah kan. Ga ngerti. Menurut saya, sama aja. Eh beda mungkin, kalau pingin beol itu mukanya agak-agak ngeden. Iya kali ya? Dan waktu tidur pun, berkurang. Tambah lagi kepikiran, apa bisa ya saya minta cuti beberapa hari jadi istri lalu pergi travelling rame-rame sama komunitas backpacker yang lain? Kan suami kerja. Jadi kan susah cari waktu bisa travelling bareng, Iya kalau besok dapet suami yang hobi travelling. Kalau engga? Hidup saya benar-benar akan berubah total! Tapi yo mbuh... Mungkin saya belum siap saja kali ya. Belum puas menikmati masa lajang dan bertualang sana sini. Beda lagi kalau suami kelak adalah seorang petualang dan backpacker. Hiyaaa... Bisa ngilang bareng-bareng. Bareng sama keluarga sobat yang suka travelling juga. Nah rame kan tuh? Itu baru enak. *Maunya.*



Lalu, berpikir juga tentang The Big Day jadi ratu sehari besok. Kalau saya sih, maunya jadi ratu yang merakyat. Simpel aja, ga pake hebring. Ga cuma duduk bareng suami cengar-cengir di singgasana emas itu. Bosen gilak kudu pura-pura senyum ramah. Padahal aslinya pingin ketawa ketiwi nyanyi ini itu rame-rame bareng sodara dan teman dekat. Hai, kami bukan boneka pajangan ya... Kami mau merakyat bersama kalian wahai para kerabat dan teman dekat. Yang kami undang pun, maunya teman-teman dekat saja. Ada acara sharing pembukaan mirip yang di pilem-pilem bule, Males basa basi sih. Hihi. *Idih keliatan deh unsosnya*.

Nah karena saya merakyat dan nasionalis, semoga suami saya besok juga seorang nasionalis dan setuju dengan usul saya ini, keluarga juga setuju, saya mau kami bersama menyanyikan bak upacara bendera, lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman, dan lagu Mengheningkan Cipta diganti jadi Maju Tak Gentar ciptaan C. Simanjutak. Keren kan? Biar kami itu selalu maju tak gentar membela yang benar, semua cobaan yang menghadang, kami trabas tak gentar. Wuoooh keren dan nasionalis sekali bukan? Karena kami keluarga nasionalis, tak lupa maharnya pun kudu nasionalis. Kira-kira apa ya? Dulu sih pernah kepikiran sepeda jengki sepasang dan buat anak kami besok, sepeda mungil jaman dulu, apa ya? Biar jadi keluarga yang romantis dan sehat. Bahahhaa. Tapi, setelah dipikir, sepeda jengki kan sepedanya londo. Lalu apa dong? Ada saran? 

Lalu acara kedatangan kami pun, kalau di nikahan-nikahan jawa dan bule mereka dateng pake andong (bagi jawa) dan kereta kuda (bagi bule), tapi karena kami itu ngirit ya... Mau dong, kami datengnya pake becak yang asoi berbendera Indonesia dan diarak rame-rame. Hahahaha. Dan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu bersama-sama, lalu setelah masuk di antara para tamu (yang tentu kerabat dan teman dekat saja), mereka menyanyikan sisa lagu Indonesia Raya pula dilanjutkan dengan Maju Tak Gentar.

Kalian para lajangers, kepikiran juga kan? Besok acara nikahan kalian mau kayak apa? Mau yang simpel ato yang hebring karena pingin eksis? Mau yang sampe teman ortu kalian pada dateng? Wuidih... Itu nikahan ortu ato nikahan anak seehhh... 

Salam, 


Indonesia!

Senin, 10 Oktober 2011

Surat Untuk Emak Dan Babe

Dadah untuk emak dan babe. Doa kami menyertaimu mu mu dan mu. Selamat dan dimudahkan urusannya serta sehat selalu. Tidak ada sesuatu sedikitpun yang melebihi kebahagiaan kami kecuali melihatmu sehat, bahagia, dan dicintaiNya. Amin. Have a nice trip. :)


This picture is for you. The Big Five! The Father was not here, he was so busy there.

Kami percaya, kami selalu ada dalam tiap buih doamu. Tak perlu kami memintanya karena kami tau, engkau sangat mengenal tiap jengkal hati raga kami. Dan selalu meminta yang terbaik untuk kami di mata-Nya. We just love you more and more. And you love us more than our biggest love (to the human of course). 
Don't be sad because we are not there, right?


With Love,



3 Kami!

Rabu, 05 Oktober 2011

Pingin Turu

Zzzzzz...

Turu adalah mimpi terbesar saya saat ini dan detik ini juga. Turu itu, bikin saya kangen sama emak. Dulu kalau kecil, saya suka disuruh tidur. Sekarang, pingin ketemu emak terus bilang, "mak, anakmu pingin turu" saya sudah bisa memperkirakan nantinya emak akan menjawab, "Yo tidur sana dalam kamar, jangan ngglesor di sini.". Andai saya di samping emak, pasti saya sudah turu saat ini juga. Sayangnya tidak, ga enak mau turu. Mushola tempat saya biasanya nebeng turu, sekarang sudah direnovasi untuk tidak menjadi mushola lagi. Saya sudah tak ada tempat nebeng turu di sini, di kantor.


Jika orang-orang menghargai dan toleransi terhadap orang penderita insomnia, pastilah ia mengijinkan saya turu. Disyukurilah orang yang bisa turu itu. Dan saya pingin turu! Orang insomnia pasti juga akan langsung mempersilakan saya turu, mumpung bisa turu maka turu lah kamu. Tapi saya tidak diijinkan turu saat ini. :(

Minggu, 02 Oktober 2011

Obat Galau



Sepertinya akhir-akhir ini galau sudah menjadi populer di kalangan muda-mudi Indonesia, bahkan artis pun terang-terangan menyanyikan kegalauannya─Sebenarnya sudah dari dulu, cuma akhir-akhir ini menjadi semakin norak. Sebut saja lagu 'mau dibawa kemana'-nya Armada, "Mau dibawa kemana hubungan kita. Jika kau terus menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta", sekarang dipopulerkan juga oleh Marchell. Kalau yang nyanyiin lagu itu Machell, saya suka! Subjektif banget ya?─ 
Dalam kalangan masyarakat awam, pada jaman bahola galau tidak begitu digembar-gemborkan dan dijadikan konsumsi publik, sekarang orang bergalau-galau ria sudah biasa, bisa terlihat jelas semua di jejaring sosial yang faktanya milik publik─Eh, kok ga malu ya ngumbar galaunya di publik? Kaya ga ada tempat lain aja. Galau bersifat negatif, iya kan? Jadi kesimpulannya, kegiatan mengumbar kegalauan adalah sama saja dengan mengumbar kenegatifannya, benar?─ 
Catatan: yang boleh mengumbar galau itu, ya artis! Buat cari duit. Tapi, jaga kualitas, jangan makin lama makin norak. Contoh tu -> lagu-lagu cinta jadulnya Chrisye, Kahitna, Iwan Fals, dll. Kalau orang awam? BIG NO! Kecuali galaunya memberi manfaat─Ada ya? Ada dong. Nanti dibahas di paragraf selanjutnya─. Sedari tadi membahas tentang galau yang belum jelas terdefinisi arti galau sendiri itu apa. Yang saya temukan mengenai arti kata galau dari Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Jelas kan? Memang galau, ah buat kacau!


Eh eh, tapi ga selamanya lho galau itu negatif. Setidak-tidaknya, orang galau itu berpikir walaupun berpikirnya lebai. Pikiran kusut karena ember menerima kiriman cucian yang overload. Jadi capek kan? Mualese poool buat nyuci. Bikin jereng mata! Sama seperti otak yang terbatas memori dan kemampuannya, terlampau dipaksa oleh pemiliknya untuk memikirkan banyak hal dalam waktu bersamaan dan tanpa diatur secara sistematis, mengeruhkan bukan?─Sebenarnya, ga gitu-gitu amat si, ga overload juga, hanya berasal dari perasaan kita sendiri saja yang overload, kan sesuatu itu datang berdasarkan kemampuan kita. Kalau diberi sesuatu yang bikin mumet, pastilah kita mampu melaluinya. Sudah ketentuan dari sononya. Cuma ya, perlu bertahan dan berusaha untuk dapat melalui si sesuatu itu. Dong?─


Jika ditelusuri lebih lanjut, orang yang sangat galau mempunyai potensi besar untuk menang─karena orang galau itu berpikir, maka dia berenergi─, ia mampu menghasilkan energi yang begitu besar. Energi itu bisa bercabang menjadi dua efek, satu negatif dan satu positif. Tergantung menejemen pribadinya. Jika ia mampu membelokkan energinya ke sisi positif, ia termasuk orang yang bersyukur, beriman, dan bertakwa. Sedangkan jika ia gagal, ia akan mendekap di kubangan kenistaan yang begitu dalam, yaitu menjadi super duper galau stadium empat -> stress dan bisa dianjurkan untuk terapi ke psikolog. Apabila kurang bisa tertangani, saya anjurkan untuk mengunjungi psikiater─orang yang ke psikolog atau psikiater belum tentu gila lho. Ingat itu!─ Mari kita bahas lebih lanjut mengenai cara membelokkan energi galau ke sisi positif.


Jadi, energi positif itu diperoleh melalui teori 'memanfaat kesempatan dalam kesempitan'. Bagaimana bisa? Bisa dong. Kesempitannya adalah ketika galau, kesempatannya adalah energi yang dikeluarkan oleh galau tersebut sangatlah besar. Jadi, ya manfaatkan lah! Begini contohnya, beberapa tulisan saya di blog ini dihasilkan karena efek positif galau. Blog I'm A Sir tercipta dikarenakan energi galau yang begitu besar. Saya galau dan galau itu saya tulis untuk menumpahkan perasaan agar berkurang sedikit beban kita. Untuk awalnya, seengga-engganya dapat digunakan berlatih menulis. Berguna kan? Untuk lebih advance-nya, tulislah sesuatu dari galaumu itu untuk menjadi sesuatu yang berguna dan bisa dikonsumsi orang lain. 
Untuk lain hal, galau mampu membuatmu nekat memutuskan pilihan eksrim daripada ketika kamu tidak galau─atau sebut saja dalam keadaan normal─. Dalam keadaan normal, kamu belum tentu akan memutuskan hal tersebut. Keputusan yang diambil ketika menggalau itu, pada akhirnya menjadi keharusan yang wajib dijalani. Dan jadilah! Kamu menjalaninya. Belajar. Keraslah pada dunia, maka dunia akan lunak padamu. Apapun hasilnya, nikmatilah prosesnya. Karena semua itu untuk ada hikmahnya sebagai pembelajaran dan pengembangan diri.


Oh ya satu lagi, galau pada akhirnya membuat kita merenung, berpikir, dan introspeksi diri. Membaca kitab suci dengan lantun─kalau saya: Al-Qur'an dan terjemahan, atau kadang buku 'Rindu Tanpa Akhir'─dan mendekatkan diri pada-Nya mampu meredamkan rasa galau dan membantu menolong kita ke jalan pencerahan. Kalau sedang sakit tenggorokan atau malas membaca, bisa juga menyetel playlist lagu-lagu solawatan, lagu Opick, Haddad Alwi, Raihan, Snada, Debu, Maher Zein, murotal Al-Qur'an, atau pun lain-lainnya. 
Tidak percaya? Coba saja! Dari semua obat apapun, yang paling mujarab, berguna, dan bermanfaat dalam menyembuhkan segala macam penyakit adalah kitab suci. Suaaangggaat Recommended! 


Surat favorit yang paling sering saya baca ketika sedang nggalau, adalah QS. Ar-Rahman
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" 
Untuk selalu mengingatkan kita akan untuk selalu bersyukur. Kalau kata teman saya, galau itu penting untuk merindukan-Nya teramat sangat. Jadi seperti konsep tarik-ulur. Galau itu berkah. Kalau ga galau, kamu ga akan pernah merasakan nikmatnya rindu. Jadi, sebenarnya galau itu penting! Galau saya, rutin. Sebulan sekali. Terjadwal kan? Yaiyalah! Wanita.




"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
Qs. Ali Imron: 139 -> untuk mengingatkan kembali padaNya.

Obat galau: 
"Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu, aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu)"
HR. Hakim





SELAMAT HARI CERAH... SEMOGA HARIMU SENANTIASA CERAH. :)
Nih makan ni keripik! Semoga cepat sembuh ya...

Keripik GALAU atau Keripik GALALI?